Pasar Positif, BNI AM Luncurkan Reksadana

Pasar Positif, BNI AM Luncurkan Reksadana
(Dari kiri) Direktur BNI- Asset Management (BNI-AM), Putut Andanawarih, Direktur Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Kunta Wibawa Dasa Nugraga, Direktur Riset CORE Indonesia Dr Piter Abdullah dan Kepala Equity Equity Fund Manager BNl-AM, Yekti Dewanti disela-sela seminar Market Outlook 2020 yang bertema “2020 Vision: Clearer View for Growth” di Yogyakarta, Kamis, 16 Januari 2020. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / JEM Kamis, 16 Januari 2020 | 19:03 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Direktur Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kunta Wibawa Dasa Nugraga yakin bahwa kondisi pasar modal di Indonesia akan membaik, sepanjang pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu terjaga di angka 5,5 persen.

Untuk itu pemerintah konsisten mendorong pertumbuhan itu, salah satunya dari sektor penurunan pajak. Sehingga angka produksi mampu tumbuh, di samping juga mengedepankan perguliran dana pemerintah ke masyarakat secara langsung, yang diterapkan dalam dana sosial hingga kredit usaha kecil.

Hal itu disampaikan Kunta Wibawa seusai berbicara dalam Market Outlook 2020 yang bertema “2020 Vision: Clearer View for Growth” di Yogyakarta, Kamis, 16 Januari 2020.

Senada dengan Kunta, Direktur BNI- Asset Management (BNI-AM), Putut Andanawarih juga optimistis kondisi pasar modal Indonesia pada tahun 2020 akan membaik dan lebih clear. Dengan demikian, sangat prospektif dalam menentukan keputusan investasi.

Menurutnya, perekonomian global di tahun 2019 lalu, diwarnai dengan risiko eksternal yang cukup volatile dengan adanya trade war AS dan Tiongkok. Trade war mengakibatkan perlambatan ekonomi yang dirasakan tidak hanya di AS dan Tiongkok, namun ke seluruh penjuru dunia. Pertumbuhan ekonomi global terkena hit, di mana hampir seluruh pertumbuhan GDP negara-negara di dunia mengalami perlambatan.

Seluruh dunia bereaksi cukup cepat terhadap perlambatan ekonomi. Stimulus-stimulus seperti penurunan suku bunga, penurunan Giro Wajib Minimum, serta easing stimulus lainnya, dilakukan berbagai negara dunia untuk dapat bertahan dari ancaman perlambatan.

Namun, memasuki tahun 2020 ini, Putut yakin bahwa risiko dari terjadinya resesi mulai berkurang setelah data-data ekonomi dunia tidak seburuk seperti yang dikhawatirkan. Akan tetapi, kata dia, era suku bunga rendah masih akan persists, dikarenakan masih perlunya insentif-insentif untuk menstimulus ekonomi.

Market di tahun 2020 lebih bergairah dibandingkan tahun 2019 karena beberapa faktor eksternal yang mempen’garuhi kondisi perekonomian global dan domestik.

Pendapat itu dibenarkan Direktur Riset CORE Indonesia, Dr Piter Abdullah bahwa perlambatan ekonomi Indonesia pada tahun 2019 disebabkan oleh turunnya angka ekspor produk-produk unggulan seperti sawit, karet dan CPO. Namun dia melihat, di awal tahun 2020 ini, angka ekspor pun sudah menunjukkan peningkatan. Dengan demikian indeks konsumsi masyarakat Indonesia ikut naik juga. Ditandai dengan inflasi yang rendah, maka keyakinan akan pelemahan ekonomi itu tidak seluruhnya benar.

Putut Andanawarih menambahkan, jika konsumsi domestik berhasil dimaintain, maka potensi resesi dapat berkurang. Perekenomian Indonesia tahun 2020 diprediksi lebih baik dibandingkan dengan tahun 2019.

”Kondisi Indonesia, kami melihat pasca-PilPres 2019 dan konsolidasi dari pemerintahan, saat ini pemerintah sudah dapat berfokus untuk mengerjakan rencana dan kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Omnibus Law
menjadi salah satu yang ditunggu, karena di dalamnya akan termasuk UU Tenaga Kerja, pemotongan pajak korporasi yang dapat mendorong investasi masuk ke Indonesia. Struktur trade balance Indonesia juga terlihat membaik, terutama dari sisi minyak dan gas.

"Terlihat impor minyak dan gas Indonesia berangsur membaik selama 2019, yang merupakan katalis positif bagi nilai tukar rupiah” demikian imbuh Putut.

Pada acara Market Outlook yang diselenggarakan 16 Januari 2020 ini, BNl-AM menghadirkan beberapa pembicara seperti Mr Rohit Jaggi dari Kementrian Keuangan RI, CFA VP Morgan Stanley Capital International (MSCI), Jamie Douglas Coutts Senior Equity Workflow Specialist Bloomberg Singapore, serta Kepala Equity Fund Manager BNl-AM, Yekti Dewanti.

Kepada media, Yekti memaparkan, searah dengan perkembangan tren industri investasi, awal tahun 2020 BNl-AM menerbitkan Reksa Dana ETF bertema ESG dengan nama Reksa Dana BNl-AM ETF MSCI ESG Leaders Indonesia (kode produk di BEI : XBES) yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia 9 Januari 2020 lalu.

Reksa Dana ETF ini merupakan reksa dana ETF kedua yang diterbitkan oleh BNI-AM setelah Reksa Dana BNl-AM Nusantara ETF MSCI Indonesia Equity Index (kode : XBNI) pada tahun 2018 yang lalu. Jika dilihat dari terbitnya beberapa Reksa Dana ETF, XBES merupakan Reksa Dana ETF ke-39 yang telah dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada tahun 2020 ini BNI-AM mempelopori pencatatan dan perdagangan ETF pertama di tahun2020 di BEI. ”Kami meluncurkan XBES untuk menyediakan varian produk bagi investor yang ingin mengoptimalkan kinerja investasi dengan portofoHo investasi emiten berfundamental baik dan mempertimbangkan aspek ESG (Environment, Social and Governance). ETF ini dapat dengan mudah dicari di BEI karena diperdagangkan melalui pasar primer dan pasar sekunder di BEI,” katanya. 

 



Sumber: Suara Pembaruan