BMKG: Curah Hujan Berkurang, Waspadai Hujan Lokal

BMKG: Curah Hujan Berkurang, Waspadai Hujan Lokal
lustrasi musim hujan. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / YUD Kamis, 16 Januari 2020 | 19:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sepekan ke depan, potensi hujan di wilayah Indonesia menurun. Meski begitu, tetap perlu diwaspadai potensi hujan sedang dan lebat di beberapa wilayah yang bersifat lokal.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo mengatakan, memang saat ini di sejumlah wilayah Indonesia masih periode musim hujan. Dari kondisi itu, selain faktor lokal juga ada faktor global yang turut mempengaruhi kondisi dan curah hujan selama musim hujan tersebut.

"Selain aktivitas monsoon Asia, ada faktor lain yang bisa menambah atau mengurangi potensi curah hujan selama periode musim penghujan ini,"
katanya di Jakarta, Kamis (16/1).

Faktor eksternal tersebut lanjut Prabowo antara lain, gelombang atmosfer (MJO), desakan udara dingin Asia dan siklon tropis.

"Pada 5-10 Januari 2020 lalu, kita mengalami MJO atau fase basah sehingga menambah hujan yang terjadi di Indonesia," ucapnya.

Saat ini lanjutnya, fase basah mulai berakhir dan akan memasuki fase kering. Hal ini diperkirakan akan memberi kontribusi terhadap minimnya pertumbuhan awan dan potensi hujan.

Namun kata dia, kondisi ini tidak akan merata terjadi di Indonesia, karena masih ada potensi dari faktor lokal yang akan mempengaruhi pertumbuhan awan hujan di suatu wilayah. Sehingga hujan yang bersifat lokal bisa saja muncul.

Hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi pemanasan yang terjadi dari pagi ke siang hari di suatu wilayah. Namun jika ada tambahan di luar faktor lokal itu, otomatis potensi curah hujan pun semakin bertambah.

Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terdapat di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Papua.

Sedangkan, untuk enam bulan ke depan, BMKG tidak melihat adanya potensi El Nino (kondisi minim hujan berkepanjangan ) atau La Nina (kondisi hujan berkepanjangan atau basah). Prakiraan ini juga serupa dengan yang dimonitor oleh NOAA Amerika, Jamstec Jepang dan Australia.

Sementara itu, untuk wilayah Riau saat ini justru memasuki musim kemarau fase pertama sehingga perlu diwaspadai titik panas yang bisa memicu kebakaran hutan dan lahan.

Karena posisi geografisnya tambah Prabowo, dalam satu tahun Riau akan mengalami dua fase musim kemarau. Pertama pada Januari dan Februari serta di awal Juni atau Juli.

Terkait upaya teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang dilakukan untuk mengurangi potensi banjir di Jabodetabek, operesi redistribusi awan dengan TMC masih terus dilakukan hingga saat ini.

Kepala Balai Besar TMC Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto mengatakan, hingga, Rabu (15/1) TMC sudah menyemai 57,6 ton garam dari dua pesawat yang digunakan melalui 34 sorti penerbangan.

Untuk TMC yang dilakukan, Kamis (16/1) lanjut Seto, pertumbuhan awan pada pagi hingga siang hari terpantau di Selat Sunda dengan pergerakan dari arah barat barat daya menuju wilayah Jabodetabek. Upaya penyemaian awan dilakukan di atas perairan Selat Sunda hingga Ujung Kulon mulai pagi jam 09:00 WIB sampai dengan 14:00 WIB.

"Penyemaian dilakukan guna menghambat pergerakan awan memasuki wilayah barat Jabodetabek," ucap Seto.

Menurutnya, pertumbuhan awan konvektif di barat wilayah provinsi Banten hingga Jawa Barat cukup masif sehingga awan memasuki wilayah selatan dari Jabodetabek dengan pergerakan dari barat ke timur, Bogor, Cianjur, Purwakarta dan Subang.

"Hal ini karena adanya tarikan massa udara ke arah timur Laut akibat pusaran tekanan udara di wilayah provinsi Kalimantan Barat, sehingga pergerakan awan konvektif di atas wilayah Banten dan Jawa Barat memasuki wilayah Jabodetabek pada sore hari ini," ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan