Kasus Wahyu Setiawan Dinilai Bentuk Penipuan

Kasus Wahyu Setiawan Dinilai Bentuk Penipuan
Asni Ovier / RSAT Kamis, 16 Januari 2020 | 21:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kasus yang menjerat mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan dinilai bentuk penipuan. Sebab Wahyu menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin dapat dipenuhi.

“Saya melihat ini lebih kepada penipuan, ada pihak yang mengiming-imingi Harun Masiku dengan permintaan uang tertentu agar menjadi anggota DPR. Tapi nyatanya sampai hari ini keputusan tidak berubah,” kata Pakar Hukum dari Universitas Trisakti, Yenti Ganarsih, Kamis (16/1/2020).

Menurut Yenti, konstruksi kasus Wahyu Setiawan kini kian terang benderang. Yenti menjelaskan, keputusan KPU mengenai calon anggota legislatif (caleg) terpilih maupun pergantian antar waktu (PAW) harus diambil secara kolektif kolegial.

Sesuai keterangan Komisioner KPU, Pramono Ubeid Thantowi, saat rapat pleno pada 6 Januari 2020 sudah diputuskan bahwa permohonan mengangkat Harun Masiku sebagai anggota DPR menggantikan Rizky Aprilia tidak dapat dikabulkan.

“Sejauh ini, saya melihat kasus ini adalah orang per orang, karena keputusan di KPU itu kolektif kolegial, tidak mungkin Wahyu Setiawan bisa mengubah keputusan sendiri atas keputusan yang sudah ditetapkan secara bersama-sama dengan komisioner KPU yang lainnya,” ujar Yenti.

Di sisi lain, Yenti khawatir kasus Wahyu Setiawan bakal menggerus kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara pemilu. “Kasus yang menjerat Wahyu Setiawan ini sangat memprihatinkan apalagi menjelang Pilkada (pemilihan kepala daerah) Serentak 2020,” kata Yenti.

Yenti pun menyebut, “Sangat kebetulan, kasus ini berbarengan dengan mencuatnya kasus korupsi Jiwasraya. Apakah ini benar-benar sebuah kebetulan? Tentu masyarakat jangan mau dikaburkan atas kasus korupsi tersebut.”



Sumber: Suara Pembaruan