Jean Richard Jokhu

Putra Papua Peraih Gelar Doktor Manajemen Pertama di UI

Putra Papua Peraih Gelar Doktor Manajemen Pertama di UI
Jean Richard Jokhu (kelima dari kanan) foto bersama promotor, dewan penguji FEB UI. ( Foto: Beritasatu Photo / Dok. Pribadi )
Dina Manafe / FER Kamis, 16 Januari 2020 | 22:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Putra Papua, Jean Richard Jokhu, mencetak kesuksesan dengan menjadi doktor di usianya yang terbilang masih muda, 31 tahun. Jean merupakan doktor manajemen pertama asal Papua, dan doktor ke-281 di Universitas Indonesia (UI).

Jean dinyatakan lulus program Doktor Ilmu Manajamen Stratejik Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI pada sidang akademik di Kampus FEB UI, Depok, Jawa Barat, Senin (14/1/2020). Jean lulus dengan nilai sangat memuaskan setelah diuji oleh tim penguji yang diketuai mantan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI dan kini menjabat sebagai rektor Universitas Paramadina.

Disertasinya yang berjudul Faktor-faktor yang memengaruhi Proses Pengambilan Keputusan Stratejik Secara Heuristik Terhadap Project Output (Studi Empirik pada UKM Konstruksi di Papua) menyoroti perilaku pengambilan keputusan sebuah perusahaan khususnya perusahaan skala kecil dan menengah (UKM) konstruksi ketika berusaha di tanah Papua.

Hasil penelitian Jean bertolak belakang dengan teori yang berkembang selama ini. Misalnya, teori yang mengatakan bahwa perusahaan yang memiliki sumber daya manusia (SDM) bagus, maka perkembangan proyeknya juga semakin maju.

Penelitian Jean justru sebaliknya. Pemilik atau pengambil keputusan perusahaan yang tidak kapabel atau bertanggungjawab dalam pengambilan keputusan akan menyebabkan proyek terkendala meski perusahaan itu memiliki tenaga berkualitas dan menajemen mutu yang baik.

"Keputusan untuk mengambil pekerjaan berdasarkan signal dan informasi yang ditawarkan pihak ketiga. Jika jenis pekerjaan yang diberikan sesuai dengan pekerjaan yang selama ini dikerjakan, maka perusahaan dapat mengambilnya. Dengan begitu perusahaan akan lebih mudah dan cepat dalam mengajukan penawaran, serta proyek selesai tepat waktu karena UKM konstruksi memiliki kapasitas untuk proyek itu," ujar Jean kepada Suara Pembaruan, Kamis (16/1/2020).

Penelitian ini juga menemukan, kondisi sosial masyarakat Papua tidak berpengaruh terhadap keputusan perusahaan yang menggunakan proses heuristik. Tetapi, perlu digaris bawahi bahwa hubungan baik dengan masyarakat lokal mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu.

Menurut Jean, perusahaan harus mengedepankan komunikasi dengan masyarakat lokal guna menciptakan lingkungan sosial yang lebih kondusif. Dengan begitu operasional perusahaan tidak mengalami gangguan yang bersifat merusak atau mengancam keberlanjutan pekerjaan.

Jika perusahaan bersikap apatis terhadap masyarakat lokal, akan menimbulkan resistensi atau penolakan terhadap operasional proyek. Masyarakat lokal dan pemimpin proyek perlu melakukan konsolidasi untuk menghindari gesekan di masa depan.

"Perlu ditemukan jalan tengah dalam menghadapi masyarakat lokal. Karena itu, tidak salah jika sebelum ambil keputusan sebuah proyek perusahaan konstruksi perlu mempertimbangkan kondisi dari masyarakat lokal sekitar proyek,” kata Jean.

Putra dari pasangan Hengky Hiskia Jokhu dan Netty Yanty Purba ini mengatakan, pembangunan di Papua harus menumbuhkan simbiosis mutualisme, menguntungkan dua belah pihak yaitu perusahaan dan masyarakat lokal. Kenyataannya, tidak sedikit perusahaan yang mengabaikan SDM lokal. Ketika membuka proyek di Papua, perusahaan membawa tenaga kerja dari luar Papua.

Mestinya, kata Jean, pembangunan di Papua juga beriringan dengan pembangunan SDM-nya. Perusahaan tidak semata-mata mencari profit, tapi juga membangun SDM di Papua melalui pelatihan, pendidikan, dan peningkatan skill.

"Jika dilibatkan secara aktif, masyarakat merasa proyek yang dikerjakan adalah untuk mereka, sehingga mengurangi resistensi atau penolakan," pungkas Jean.

 



Sumber: Suara Pembaruan