Michelle Setiawan Tularkan Budaya Literasi di Puskesmas

Michelle Setiawan Tularkan Budaya Literasi di Puskesmas
Michelle Setiawan (tengah) menyebarkan semangat literasi lewat menyumbang buku ke puskesmas. (Foto: istimewa)
Maria Fatima Bona / EAS Jumat, 17 Januari 2020 | 20:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Berdasarkan laporan dari Unesco menyebutkan hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat baca serius. Akibatnya, tingkat literasi bangsa Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara menurut kajian World’s Most Literate Nations dari Central Connecticut State University. Kenyataan inilah yang mengusik hati siswi dari Satuan Pendidikan Kerjasama, Michelle Setiawan, untuk menjadi penggerak literasi.

Cukup unik, Michelle memilih puskesmas sebagai wadah untuk menyalurkan buku-buku yang hendak diberikannya kepada khalayak. Puskesmas menjadi pilihan karena berkaca dari pengalamannya ketika harus menunggu atau mengantre berobat di rumah sakit. Michelle biasanya panik sebelum berobat, maka membaca buku adalah pilihan untuk mengalihkan ketakutan tersebut.

"Puskemas banyak anak-anak kecil. Ibu dan ayahnya bisa membaca buku cerita ke anak-anak kecil. Kegiatan itu juga menjadi family bonding. Alasan lainnya, jujur saya prihatin terhadap kondisi indeks literasi Indonesia yang masih rendah. Saya tahu, indeks baca Indonesia itu tidak tinggi. Padahal seyogyanya orang harus banyak baca buku untuk menyelesaikan masalahnya,” ujar pelajar 16 tahun ini dikutip dari siaran pers, Jumat (17.1/2020).

Michelle menuturkan, menjalankan gerakan literasi semenjak tahun lalu di beberapa puskesmas di Jakarta Selatan, di antaranya Puskesmas Pulo dan Puskesmas Kebayoran Baru. Khusus di tahun ini, Michelle menargetkan untuk dapat menyumbang buku ke seluruh puskesmas yang ada di Jakarta.

Sementara itu, peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS), Nadia Fairuza Azzahra mengatakan, orang-orang yang rajin membaca seperti Michelle bisa membuat gerakan yang positif untuk lingkungan di sekitarnya. Gerakan yang dilakukan Michelle membuktikan generasi milenial juga bisa melakukan perubahan.



Sumber: Suara Pembaruan