Kriminalisasi Jaksa Chuck Dikisahkan dalam Novel Berjudul "Titik dalam Kurung"

Kriminalisasi Jaksa Chuck Dikisahkan dalam Novel Berjudul
Dari kiri ke kanan, moderatir Irwan Ariefyanto, pakar komunikasi politik Emrus Sihombing, sejarawan JJ Rizal, pakar hukum pidana Suparji Ahmad, Direktur Lokataru, Haris Azhar, dan penulis buku Agus Dwi Prasetyo, dalam diskusi dan bedah buku tentang kriminalisasi jaksa Chuck Suryosumpeno, berjudul "Titik dalam Kurung" di Jakarta, Jumat, 17 Januari 2020. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Sabtu, 18 Januari 2020 | 08:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tragedi kriminalisasi jaksa berprestasi Chuck Suryosumpeno dikisahkan Agus Dwi Prasetyo dalam novelnya yang berjudul "Titik dalam Kurung". Kehadiran novel yang diterbitkan REQ Book itu pun mendapat apresiasi dari pakar hukum pidana Universitas Al Azhar Indonesia, Suparji Ahmad.

Suparji menilai, apa yang dituliskan dalam novel tersebut bukan sebuah imajinasi belaka. "Satu kata, mengerikan! Karena isi novel ini menggambarkan kehidupan penegak hukum, khususnya jaksa berprestasi yang diterkam penguasa," kata dia di REQ Space, Jakarta, Jumat (17/1/2020).

Ia menambahkan, novel "Titik dalam Kurung" bisa dikatakan sebagai bukti tidak adanya kontrak hukum yang baik di Kejaksaan. Bahkan, lanjutnya, Kejagung yang diharapkan ada reformasi kultural dan struktural, ternyata tidak ada perubahan sama sekali.

Direktur Eksekutif Lokataru, Haris Azhar berpendapat, novel ini merupakan bukti bahwa prestasi atau gebrakan Chuck telah membuat Kejaksaan Agung era kepemimpinan yang lalu marah besar. Ia pun menilai hal wajar bagi penulis yang terinspirasi dari kasus Jaksa Chuck untuk membuat sebuah buku.

Sebab, persoalan yang menimpa Jaksa Chuck merupakan noda hitam dalam sejarah kepemimpinan di Kejagung. "Yang sebetulnya ramai soal Pak Chuck ini adalah soal kasus kriminalisasinya," ujarnya.

Haris menambahkan jika Jaksa Chuck menjadi korban kemarahan, karena hanya dia yang berani melawan demi memperjuangkan keadilan, hati nurani, dan sumpah jabatannya, hingga akhirnya harus disingkirkan.

"Kriminalisasi Chuck adalah satu bentuk kemarahan besar dalam masa kepemimpinan di institusi kejaksaan. Jadi, banyak orang di lingkaran kejaksaan bilang, mereka tidak mau seperti Chuck. Cuma di sisi lain, mereka juga bilang, hanya Chuck yang berani melawan. Berani menolak," kata dia.

Di sisi lain, pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing menilai buku "Titik dalam Kurung" menjadi kritik bagi negara. Negara dianggap berbahaya bagi para penulis yang menelurkan karya sensitif.

"Ini sebenarnya kritik yang sangat dalam bagi negara ini. Artinya, penulis saja menyatakan kalau ada nama yang sama dari kejadian nyata hanya faktor kebetulan," kata Emrus dalam diskusi.

Dia menilai, tulisan di dalam buku merupakan kisah nyata. Namun, penulis mengemas tulisan dengan cara berbeda. Penulis, menurut Emrus, sampai memakai nama lain untuk mengaburkan kisah sesungguhnya.

"Itu menunjukkan negara tidak memberi kebebasan. Sampai penulis buku mengemas sedemikian rupa agar tidak muncul persoalan, padahal ini fakta dan para pemangku kebijakan tidak boleh tinggal diam,” kata dia.

Kasus yang menimpa Chuck, lanjutnya, merupakan bukti bahwa tidak hanya masih ada permasalahan administrasi negara di Kejagung. Namun, sebenarnya masih ada yang lain.

"Kalau kita pakai teori gunung es, bagaimana sesungguhnya yang terjadi di belakang atau di dalamnya? Karena 'mereka' itu ketika duduk di suatu jabatan, baik di kejaksaan atau instansi tertentu seolah -olah institusi tersebut miliknya dan yakin ia akan menjabat sampai akhir hayat," lanjut Emrus.

Kondisi tersebut membuat penegakan hukum di Indonesia, sangat masih menyedihkan karena masih banyak permainan yang sering terjadi. "Yang menyedihkan, adalah saat hakim atau jaksa mengambil keputusan memakai ujaran “Atas Nama Tuhan Yang Maha Esa”, kedaulatan Tuhan sengaja dipakai untuk korupsi atau mengkriminalisasi orang yang tak bersalah, mau jadi apa republik ini?," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan