Kurangi Risiko Penularan Antraks di Gunungkidul Perlu Ada Biosecurity

Kurangi Risiko Penularan Antraks di Gunungkidul Perlu Ada Biosecurity
Dokter hewan memeriksa sapi untuk mengantisipasi penyebaran penyakit antraks. ( Foto: Antara )
Fuska Sani Evani / RSAT Minggu, 19 Januari 2020 | 19:16 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Temuan kasus penyebaran bakteri antraks pada manusia di Kabupaten Gunungkidul, harus disikapi dengan biosecurity, sekaligus pembatasan mobilisasi orang dan ternak untuk mengurangi risiko penularan.

“Namun masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Antraks sendiri merupakan penyakit yang bersumber binatang dan tidak menular dari manusia ke manusia. Penularannya biasanya terjadi karena adanya kontak langsung dengan hewan yang sakit atau daging hewan yang terkontaminasi dan mengonsumsi daging hewan yang terkontaminasi spora antraks,” ujar Dekan Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus, Sabtu (17/01/2020).

Menurut Ali, penularan penyakit antraks terhadap manusia sendiri dapat termanifestasi ke dalam 3 macam, yaitu antraks kulit akibat kontak langsung dengan binatang yang sakit atau mati, antraks pencernaan jika mengonsumsi daging yang terkontaminasi antraks, atau antraks pernafasan melalui spora antraks yang terhirup.

Dari ketiganya, yang paling sering terjadi adalah antraks kulit yang memiliki gejala demam, bengkak, serta luka yang memunculkan kopeng menghitam tebal.

“Untuk pencegahan yang paling sederhana, bagaimana orang yang keluar dan masuk kandang itu diberi disinfektan,” ujarnya.

Pengajar di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM Riris Andono Ahmad menyebutkan, antraks jenis ini relatif tidak fatal, lebih berbahaya antraks pernafasan, dan pencernaan.

Masyarakat menurutnya perlu memiliki kesadaran yang lebih besar tentang penyakit ini serta cara mengatasinya. Apabila seekor ternak telah menunjukkan gejala antraks seperti demam tinggi, gelisah, tidak mau makan, mati dengan keluarnya darah hitam dari lubang tubuh atau mati secara mendadak, pemilik ternak perlu menghubungi puskeswan atau petugas kesehatan hewan terdekat dan tidak justru menyembelih hewan tersebut untuk dijual atau dikonsumsi.

“Di DIY sendiri sebagian besar kasus terjadi karena ketika seekor ternak sakit atau mati masyarakat merasa eman-eman dan mencoba, daripada mati sia-sia maka disembelih untuk dijual dengan harga murah atau diberikan kepada masyarakat sekitar,” kata Riris.

Tindakan ini, justru akan meningkatkan risiko penyakit karena dengan menyembelih hewan, itu akan menyebarkan spora ke lingkungan.

Riris mengimbau tenaga kesehatan terutama yang berada di layanan primer untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda dan gejala penyakit Antraks dan segera berkoordinasi dengan dinas kesehatan atau puskesmas terkait apabila menemukan kecurigaan suspek kasus antraks

Pakar mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Wahyuni mengungkapkan, antraks disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Spora dari bakteri ini, jelasnya, bisa bertahan di tanah hingga puluhan tahun. Karena itu, ia menegaskan agar hewan yang diduga terjangkit penyakit ini tidak boleh disembelih atau dibuka.

“Kalau hewan disembelih darahnya akan keluar, dan di situ bakterinya juga akan keluar. Begitu berhubungan dengan udara, dia akan membentuk spora yang bisa bertahan di tanah hingga puluhan tahun,” terangnya.

Karakter bakteri tersebut, membuat pengendalian penyakit antraks tidak mudah, karena sulit untuk mengetahui di mana letak spora bakteri yang keluar dari hewan. Untuk itu peternak perlu melakukan penanganan bangkai hewan secara tepat.

Disebutkan di beberapa negara, penanganan bangkai hewan yang terjangkit penyakit dilakukan dengan insenerator untuk menghancurkan bangkai secara menyeluruh. Namun, alat tersebut belum bisa diterapkan untuk kasus penyakit ternak di Indonesia.

Alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan mengubur bangkai pada lubang dengan kedalaman minimal 2 meter yang ditutup dengan tanah dan diberi disinfektan. Area tersebut juga sebaiknya diplester atau dilapisi dengan semen sebagai penanda bahwa di tempat tersebut pernah terjadi kasus antraks.

Untuk pencegahan, khususnya di daerah di mana penyakit antraks telah menjadi endemik, perlu dilakukan vaksinasi ternak serta pengawasan secara berkala terhadap hasil dari vaksinasi tersebut. Ia menyarankan agar vaksinasi dilakukan dua kali dalam setahun karena antibodi mulai menurun setelah 6 bulan.



Sumber: Suara Pembaruan