KLB Antraks Gunungkidul Dicabut

KLB Antraks Gunungkidul Dicabut
Dokter hewan memeriksa sapi untuk mengantisipasi penyebaran penyakit antraks. ( Foto: Antara )
Fuska Sani Evani / JAS Senin, 20 Januari 2020 | 17:58 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Kementerian Kesehatan (Kemkes) RI telah menghapus status Kejadian Luar Biasa (KLB) penyebaran penyakit antraks di Kabupaten Gunungkidul.

Diketahui 21 korban terinfeksi penyakit antraks dan satu korban meninggal dunia dengan diagnosis meningitis, Pemkab Gunungkidul terus melakukan upaya untuk mencegah penyebaran bakteri antraks.

Kepala Bidang Peternakan DPP Gunungkidul, Suseno Budi menuturkan untuk mengantisipasi penyebaran spora antraks dari sapi hidup, Pemkab Gunungkidul menerjunkan tim gabungan untuk merazia truk-truk yang masuk ke Gunungkidul, khususnya daerah endemis yaitu Desa Gombang, Kecamatan Ponjong dan Desa Pucanganom, Kecamatan Rongkop.

Tim gabungan tersebut melakukan razia untuk mencegah ternak keluar dari Desa Gombang dan Desa Pucanganom.

“Sudah ada 12 truk pengangkut hewan ternak yang tidak boleh masuk ke Gunungkidul dan diminta kembali,” ujarnya.

Selain itu, petugas juga melakukan pemeriksaan di pusat-pusat jual beli hewan, untuk memastikan sapi yang dijual, sehat, dan wilayah yang terkontaminasi antraks. Petugas juga memberikan formalin dan antibiotik bagi masyarakat yang bersentuhan langsung dengan teknak mati.

“Bulan pertama pencegahan agar hewan ternak tidak ke luar nanti akan dievaluasi,” kata Suseno.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto juga menjelaskan, penyuntikan antibiotik sudah dilakukan pada Sabtu lalu dilaksanakan di Desa Pucanganom dan Desa Dadapayu Semanu, sebagai pusat penyebaran atau antraks.

Dikatakan, setelah pemberian antibiotik, dua minggu lagi, Pemkab akan diberikan vaksinasi kepada masyarakat.

Meski status KLB penyebaran penyakit antraks sudah dicabut, namun antisipasi tetap harus dilakukan, sebab daerah endemik antraks tetap menyimpan spora antraks tersebut.



Sumber: Suara Pembaruan