Minta Maaf, Toto Santoso Akui Keraton Agung Sejagat Fiktif

Minta Maaf, Toto Santoso Akui Keraton Agung Sejagat Fiktif
Totok Santoso Hadiningrat yang mengklaim dirinya sebagai Raja Keraton Agung Sejagat Purworejo. ( Foto: Facebook )
Stefi Thenu / CAH Selasa, 21 Januari 2020 | 13:54 WIB

Semarang, Beritasatu.com – Toto Santoso, tersangka kasus Keraton Agung Sejagat, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat atas kegaduhan yang terjadi akibat munculnya Keraton Agung Sejagat yang dipimpinnya tersebut.

‘’Saya mohon maaf kepada masyarakat Indonesia, telah membuat gaduh,’’ ujar Toto, kepada wartawan saat keluar dari ruang tahanan dibawa ke ruang Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jateng, Selasa (21/1/2020).

Didampingi pengacaranya, Muhammad Sofyan, Totok juga mengakui bahwa kerajaan yang dibuat bersama pasangannya, Fanny Aminadia, itu juga fiktif. Begitu pula dengan janji-janji yang diberikan kepada para pengikutnya. Dia juga mengakui tak memiliki kerabat dengan kerajaan lain di Tanah Air.

Polisi Usut Cabang Keraton Agung Sejagat di Daerah

‘’Itu semuanya fiktif. Saya minta maaf,’’ ujarnya tertunduk lesu.

Pengacara Toto, Muhammad Sofyan menjelaskan, kliennya tidak bisa menjelaskan panjang lebar karena sudah masuk materi penyidikan polisi.

Pihaknya mengatakan, kliennya mengakui tindakannya salah dan meminta maaf kepada masyarakat karena telah membuat kegaduhan.

Saat ditanya, apakah dengan pengakuan dan minta maaf itu, Keraton Agung Sejagat bubar? Sofyan mengatakan, seharusnya demikian.

Pengikut Keraton Agung Sejagat Dipungut Jutaan Rupiah dan Dijanjikan Gaji Dolar

Menurut Sofyan, karena kliennya mengaku bahwa kerajaan itu fiktif, praktis bubar, karena tak ada yang melanjutkan.

Lantas bagaimana dengan uang yang dikumpulkan Toto dan Fanny, apakah akan dikembalikan kepada pengikutnya, Sofyan mengaku, itu masuk dalam materi penyidikan.

‘’Yang jelas, saya tidak mengetahui berapa total jumlah uangnya. Yang saya tahu dari klien saya, uang itu digunakan untuk membuat seragam, aksesoris, perlengkapan dan keperluan acara-acara yang digelar, jadi tak ada uang secara kumulatif,’’ tegasnya.

Sofyan menambahkan, uang itu juga merupakan inisiatif dari para anggota untuk dibuatkan seragam, dan atribut lainnya.



Sumber: Suara Pembaruan