Pasokan Susu Lokal Belum Mencukupi Permintaan Industri

Pasokan Susu Lokal Belum Mencukupi Permintaan Industri
Danone Indonesia melalui PT Sarihusada menggelar diskusi dengan mitra peternak sapi demi membantu penerapan good farming practices dan good manufacturing practices, meningkatkan pengetahuan peternak,di Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa, 21 Januari 2020. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / JEM Selasa, 21 Januari 2020 | 19:35 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Mengandalkan pasokan susu sapi dari petani lokal, Danone Indonesia melalui PT Sarihusada Generasi Mahardika (Sarihusada) melakukan tiga pendekatan antara lain membantu penerapan good farming practices dan good manufacturing practices, meningkatkan pengetahuan peternak, serta bantuan sarana-prasarana.

Melalui diskusi dengan mitra peternak pada Selasa (21/01/2020) di Kalasan, Sleman DI Yogyakarta, Sustainable Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo menjelaskan diskusi tersebut merupakan bagian dari program kemitraan terkait peningkatan mutu susu.

Salah satunya program peningkatan mutu susu yang telah dilaksanakan sejak 1991 yang bertujuan untuk mendorong peternak menghasil kan susu dengan kualitas yang lebih baik agar dapat turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Walaupun tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia termasuk yang paling rendah di ASEAN, di sisi lain kebutuhan pasar meningkat dari tahun ke tahun. Namun ternyata, peningkatan permintaan akan susu ternyata tidak sejalan dengan suplai dari peternak lokal, baik kuantitas maupun kualitasnya belum cukup memadai.

Pertumbuhan konsumsi susu sapi per tahun mencapai lima persen, namun produksi susu sapi lokal hanya meningkat dua persen per tahun. Karyanto Wibowo pun menyatakan, produk susu peternak lokal, masih dengan rentang kualitas yang beragam.

Karena itu, bersama praktisi dari Universitas Gadjah Mada Sarihusada telah melaksanakan program peningkatan mutu susu selama dua puluh sembilan tahun dengan pola kemitraan.

“Kami berupaya untuk berbagi pengetahuan dan memberikan pendampingan kepada peternak lokal mitra Sarihusada yang ada di Jogjakarta dan Jawa Tengah,” teranya.

Dikatakan, program peningkatan mutu susu berupaya mengatasi terbatasnya ketersediaan bibit sapi perah berkualitas, keterbatasan lahan untuk penanaman hijauan, dan rendahnya minat generasi muda menjadi peternak. “Masalah lain adalah terbatasnya pakan konsentrat yang berkualitas dengan harga terjangkau,” tambahnya.

Tantangan besar petemak adalah kualitas yang belum layak diterima industri. Untuk itu, Head of Raw Material Ingredients C&P Danone Indonesla Agus Budiyanto menyatakan peternak binaan kini mampu memprocuksi susu segar dengan kualitas yang jauh lebih baik yaitu dengan trend angka kuman (TVC) yang terus menurun.

“Dalam tujuh tahun terakhir angka kuman berada di bawah 1 juta cfu/ml", jelasnya.

Ditambahkan dosen Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta Sigit Bintara, program kemitraan ini sangat membantu memberikan ruang bagi akademisi dan keilmuan untuk diterapkan secara tepat guna kepada 1.128 peternak di Yogyakarta, Klaten, dan Boyolali. Selain itu kegiatan ini juga melibatkan empat koperasi dan satu Merapi Project, serta memelihara 1.500 susu laktasi dan 3.203 ekor sapi perah.

Kabid Peternakan Kabupatan Sleman, Harjanto menyebutkan, upaya peningkatan kesejahteraan peternak rakyat merupakan perjalanan panjang dan dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Kami mengapresias upaya yang dilakukan Sarihusada dan UGM yang secara berkesinambungan mendampingi peternak. 



Sumber: Suara Pembaruan