Pemerintah Bahas Kepulangan WNI Terduga Teroris dari Suriah

Pemerintah Bahas Kepulangan WNI Terduga Teroris dari Suriah
Menko Polhukam Mahfud MD. ( Foto: Antara / Zuhdiar Laeis )
Robertus Wardi / YUD Selasa, 21 Januari 2020 | 20:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah membahas rencana kepulangan Warga Negara Indonesia (WNI) yang terlibat dalam jaringan teroris lintas batas (Foreign Terrorist Fighters/FTF). Dalam waktu dekat, pemerintah akan segeea mengambil keputusan terkait masalah itu.

"Semua akan dipertimbangkan dan nanti akan disampaikan ke presiden dalam waktu yang tidak lama. Mungkin dalam paruh pertama tahun ini kita sudah punya sikap barang kali ya, barangkali sudah selesai," kata Mahfud di Kemko Polhukam, Jakarta, Selasa (21/1).

Ia menjelaskan tidak mudah untuk memulangkan para WNI yang masuk dalam jaringan FTF. Apalagi jumlahnya mencapai 600 orang.

Alasannya, secara konstitusi mereka masih punya hak untuk kembali ke Tanah Air karena mereka adalah WNI. Namun di sisi lain, kepulangan mereka bisa menjadi virus untuk pertumbuhan teroris di Tanah Air. Karena itu, pemerintah akan berpikir serius terkait masalah tersebut.

"Kalau mereka dipulangkan karena hak mereka, itu juga bisa menjadi ada yang khawatir bisa menjadi virus. Virus teroris-teroris baru di sini. Ini sedang dicari cara tetapi dalam waktu tidak lama akan segera diputuskan. Karena begini itu menyangkut banyak kementerian. Kemsos misalnya menampung akibat-akibat sosialnya, Kemkumham menyangkut hukum dan kewarganegaraannya dan juga pariwisata dan investasi bisa terkena imbas kalau misalnya masih ada ancaman teroris dan sebagainya," jelas Mahfud.

Dia menegaskan pemerintah membahas masalah itu karena ada yang meminta ingin pulang. Kemudian ada juga negara-negara yang meminta mereka untuk dipulangkan.

"Berbagai negara macam-macam, ada yang mau memulangkan hanya anak-anak yatim, ada yang mau memulangkan perempuan dan anak-anak tapi FTF-nya, fighternya itu tidak dipulangkan. Tetapi negara yang menjadi tempat juga mempersoalkan gimana ada orang teroris pelintas batas di sini. Itu diskusikan. Apakah itu mau dipulangkan apa tidak? Kalau dipulangkan, dipulangkan semua atau tidak," tutur Mahfud.

Saat ditanya negara terbanyak penampung FTF, dia tegaskan ada di Suriah, Afganistan dan Turki. Namun dia tidak menyebut berapa jumlahnya di negara-negara tersebut. Dia hanya tegaskan total FTF di luar negeri 600 orang. 



Sumber: Suara Pembaruan