Kemampuan Berbahasa Inggris Siswa di NTT Masih Pemula

Kemampuan Berbahasa Inggris Siswa di NTT Masih Pemula
Aplikasi belajar bahasa asing secara daring, Cakap, melakukan sebuah riset melalui program Dayamaya, untuk mengetahui kesiapan pariwisata Provinsi NTT. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Indah Handayani / FER Selasa, 21 Januari 2020 | 23:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil mendapatkan penghargaan Best Value to Visit in 2020 dalam kompetisi yang digelar Lonely Planet.

NTT digambarkan sebagai rumah bagi pantai-pantai eksotis yang belum terjamah dengan salah satu pemandangan menyelam terbaik di Indonesia.

Selain itu, destinasi wisata seperti Kepulauan Alor, Pulau Komodo, Pulau Rinca dan wilayah lainnya, diprediksi akan ramai dikunjungi wisatawan mancanegara (Wisman) pada 2020.

Sebagai destinasi wisata yang paling direkomendasikan di seluruh dunia, NTT dinilai memiliki banyak tugas untuk menyambut gelombang wisatawan pada tahun 2020. Salah satunya adalah kemampuan bahasa Inggris.

Menurut UNWTO, kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah wisatawan dalam menciptakan pariwisata berkelanjutan.

Untuk mengetahui kesiapan pariwisata Provinsi NTT, aplikasi belajar bahasa asing secara daring, Cakap, melakukan sebuah riset melalui program Dayamaya.

Dayamaya merupakan inisiatif dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kemkominfo untuk memfasilitasi startup, komunitas, kelompok masyarakat, dan UMKM digital dari seluruh Indonesia, untuk membuat solusi tepat guna bagi masyarakat, khususnya yang berfokus di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).

Hasil riset tersebut menyebutkan, dari 250 peserta yang terlibat, mayoritas siswa di kabupaten Sabu Raijua, dan Sumba Timur masih tergolong ke dalam level beginner atau pemula.

Hal ini memiliki arti, siswa sudah memiliki basis pengetahuan Bahasa Inggris namun masih lemah dalam mengembangkannya ke dalam sebuah kalimat ataupun percakapan.

Adapun siswa yang tergolong ke dalam kategori high intermediate masih tergolong sangat rendah, dimana tercatat hanya sekitar 0,5 persen.

Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informasi untuk Masyarakat dan Pemerintah BAKTI Kemkominfo, Danny Januar, menyatakan, dengan hadirnya internet maka semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam memajukan kesejahteraan dirinya, serta lingkungannya.

"Visi BAKTI adalah memeratakan infrastruktur telekomunikasi dan mengembangkan ekosistem bagi masyarakat di daerah 3T agar dapat mengembangkan SDM untuk Indonesia menuju digital nation. Salah satunya, melalui program Dayamaya,” ujar Danny Januar dalam keterangan persnya, Senin (21/1/2020).

CEO Cakap, Tomy Yunus, menambahkan, dengan memanfaatkan akses internet yang telah disediakan BAKTI Kemkominfo di sekolah, Cakap telah menyelenggarakan digital assessment di Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Sumba Timur, dengan menggunakan standarisasi CEFR (The Common European Framework or Reference for Languages).

"Kegiatan ini dilakukan secara daring melalui ruang belajar digital dalam sebuah kelas online yang diisi oleh guru bahasa Inggris asing (ESL Teacher). Kegiatan digital assessment ini, juga bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan akses internet yang sudah disediakan oleh BAKTI melalui program Universal Service Obligation (USO)," jelasnya.

Lebih lanjut, Tomy mengatakan, dengan semangat gotong royong bersama para stakeholder strategis, Cakap bersama BAKTI Kemkominfo melalui program Dayamaya ingin mendorong upaya kolaborasi lintas sektor bagi kesejahteraan masyarakat melalui sektor pendidikan.

"Kami harap, hasil riset Cakap dapat meningkatkan kesadaran pemerintah daerah dan masyarakat tentang pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris," tegas Tomy Yunus.

 



Sumber: Investor Daily