Ari Sigit Terima Dua Mobil Mewah dan Uang dari PT Kam & Kam

Ari Sigit Terima Dua Mobil Mewah dan Uang dari PT Kam & Kam
Chika Xydia, Rica Calebout, dan Ari Sigit. ( Foto: Chairul Fikri/Beritasatu.com / Chairul Fikri )
Aries Sudiono / JAS Rabu, 22 Januari 2020 | 17:23 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Cucu mantan Presiden Suharto, Ari Haryo Sigit (AHS) alias Ari Sigit (AS), mengaku mendapat hadiah atau reward satu unit mobil mewah dari manajemen PT Kam & Kam karena istrinya yang melakukan top up sebagai member.

Menyadari bahwa mobil tersebut sejatinya bukan reward, maka hari itu juga mobil yang semula diterimanya dari manajemen PT Kam & Kam, ia kembalikan melalui penyidik. Demikian pula dengan satu unit mobil mewah lainnya yang diterima keluarga Cendana, pada hari Rabu itu pula diserahkan ke penyidik. 

Dua dari lima orang saksi yang dijadwalkan memenuhi surat panggilan penyidik Ditreskrimsus Polda Jatim, yakni Ari Haryo Sigit (AHS) alias Ari Sigit (AS) dan perancang busana Adjie Notonegoro (AN), hadir di Mapolda Jatim, Surabaya, Rabu (22/1).

Sementara istri Ari Sgit bernama Frederica Francisca Callebaut (FFC) atau Sisca Callebaut tak bisa datang memenuhi panggilan karena mengaku sakit. Sedangkan dua artis penyanyi Tata Janeeta (TJ) dan Regina Ivanova alias Regina Idol (RI) karena kesibukannya, meminta jadwal penundaan. Ketiga saksi itu dijadwalkan bisa hadir dan memberikan keterangan saksi kepada penyidik, pekan depan.

“Kami meminta keterangan para saksi itu bukan mengada-ada, tetapi kami memandang perlu melakukan cek silang (croos check) tentang benar tidaknya terkait keterangan dari tersangka dan saksi-saksi sebelumnya serta bukti digital forensik yang sudah kami dapat. Kami ingin menyelamatkan aset dari para member atau anggota yang sudah tertipu dengan bisnis investasi bodong PT Kam & Kam yang menggunakan aplikasi MeMiles,” tandas Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan kepada wartawan, Rabu sore.

"Jadi, kami memandang perlu keterangan saksi yang wajib kami dalami, guna membongkar tuntas kasus yang jaringannya menggurita itu,” tandas Luki Hermawan sambil menambahkan, bahwa dari keterangan para saksi sebelumnya, ada yang merasa menjadi korban. Ada sejumlah artis, yang satu dua di antaranya hanya diundang untuk menghibur, menyanyi guna meramaikan pertemuan atau rapat anggota dan calon anggota. Sementara menurut keterangan tersangka sebelumnya, banyaknya artis dan public figure itu merupakan bagian dari kegiatan rutin PT Kam & Kam guna menarik minat yang hadir untuk menjadi member (anggota) dan paling tidak menjadi calon anggota.

Terkait dengan kesaksian AHS, ia mengaku menerima reward satu unit mobil mewah dari manajemen PT Kam & Kam karena istrinya yang melakukan top up sebagai member. Menyadari bahwa mobil tersebut sejatinya bukan reward, maka hari itu juga mobil yang semula diterimanya dari manajemen PT Kam & Kam, ia kembalikan melalui penyidik. Demikian pula dengan satu unit mobil mewah lainnya yang diterima keluarga Cendana, pada hari Rabu itu pula diserahkan ke penyidik.

“(AHS) tidak top up, tetapi justru menerima aliran dana dan reward mobil mewah baru yang diterimanya. Nah, inilah yang terus kita dalami. Berapa uang yang diterima, sebagai apa. Sebab, dari haril pemeriksaan tidak ada sebagai member. Kalau istrinya memang member dan menyetor dana top up,” ujar Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan.

Kapolda juga menyayangkan jika ada saksi yang dipanggil tidak bersedia hadir karena itu merugikan diri sendiri. Karena bisa jadi diindikasikan terlibat dalam aksi penggalangan calon member. Karenanya, Kapolda memberikan apresiasi kepada sejumlah figur publik yang bersedia hadir memberikan keterangan sebagai saksi, sebagai bagian dari upaya untuk menjadikan kasus investasi bodong PT Kam & Kam yang berkantor pusat di Ibu Kota itu menjadi terang benderang. Lebih dari itu saksi bisa membela diri karena sebelumnya namanya disebutkan ikut terlibat.

Adjie Notonegoro

Sementara itu sebelumnya, saksi Adjie Notonegoro, yang datang pukul 09.30 WIB melalui pengacaranya Robert Simangunsong mengatakan bahwa kliennya merupakan korban dalam kasus ini sebab dia mengikuti aplikasi MeMiles karena ajakan dari temannya.

“Dia juga korban dalam kasus ini," tandas Robert. Hal senada disampaikan Adjie Notonegoro yang mengaku mengenal MeMiles karena ajakan temannya. Perancang busana itu mengaku baru tiga bulan bergabung dengan PT Kam & Kam dan sudah melakukan top up sebesar Rp 150 juta.

Meski begitu, dia belum pernah mendapat reward apapun dari PT Kam and Kam, perusahaan yang mengelola MeMiles. “Saya memang menjadi member tetapi tidak aktif. Tidak pernah ikut kegiatan. Saya tidak tahu juga investasi ini itu bagaimana, karena hanya ikut-ikutan karena diajak teman-teman,” ujar Adjie saat ditemui sedang berada di ruang istrirahat Mapolda Jatim, Rabu sore.

Atas dasar itu, Adjie mengklaim ikut menjadi korban dari investasi bodong tersebut. Seperti halnya member lain, dia berharap uang Rp 150 juta yang disetorkan bisa dikembalikan.

“Kita mungkin akan tunggu di persidangan, mudah-mudahan uang saya dikembalikan. Kalau tidak, ya terpaksa diikhlaskan,” ujar Adjie.

Adjie mengaku mengetahui investasi MeMiles dari teman yang kemudian mengajak untuk bergabung. Adjie menolak menyebutkan nama teman yang dimaksud dengan alasan yang bersangkutan nantinya juga akan dipanggil penyidik.

Dalam kasus ini penyidik menetapkan lima tersangka, yaitu Direktur PT Kam and Kam Kamal Tarachan alias Sanjay (47), Suhanda, dokter Eva Martini Luisa sebagai motivator, Prima Hendika selaku Kepala Tim IT Memiles, serta Sri Wiwid alias Wiwid yaitu orang kepercayaan Direktur PT Kam and Kam yang bertugas membagi reward kepada para member.

Dari rekening yang dimiliki sendiri tersangka Wiwid, penyidik mengamankan uang sebesar Rp 2 miliar.

Penyidik juga menyita barang bukti uang tunai dari tersangka sebesar Rp 128 miliar, 20 unit mobil mewah, dua unit sepeda motor, serta puluhan barang elektronik dan beberapa aset barang berharga lainnya. Dalam delapan bulan kiprahnya, nilai aset PT Kam & Kam yang berasal dari 264.000 member dan endoser MeMiles disebutkan mencapai Rp 760 miliar.



Sumber: Suara Pembaruan