BWJ Sambut Rencana Reaktivasi Jalur Kereta Pandeglang

BWJ Sambut Rencana Reaktivasi Jalur Kereta Pandeglang
Ilustrasi rel kereta api. ( Foto: Antara )
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 23 Januari 2020 | 14:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Banten West Java (BWJ) selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, menyambut gembira rencana Kementerian Perhubungan (Kemhub) untuk mengaktifkan kembali jalur kereta api (KA) Rangkasbitung-Labuan.

Kemhub Akan Aktifkan Kembali Jalur Kereta Pandeglang

Seperti yang diketahui, jalur Rangkasbitung-Labuan dulunya berperan penting dalam mengoneksikan transportasi berbasis rel dari wilayah pesisir barat Banten seperti Kota Labuan dan Pandeglang menuju Jakarta.

"BWJ sebagai salah satu unit usaha Jababeka Group, menyadari upaya reaktivasi jalur kereta api tersebut bakal mendongkrak kunjungan wisatawan ke KEK Tanjung Lesung," ujar Direktur Utama BWJ, Poernomo Siswoprasetijo, dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Kamis (23/1/2020).

Pornomo mengatakan, jika jalur kereta api tersebut telah diaktifkan kembali dan beroperasi, pilihan untuk pergi ke kawasan Tanjung Lesung semakin beragam. "Sehingga, bisa meminimalisir biaya perjalanan dan juga waktu tempuh yang lebih cepat," kata Poernomo.

Menhub: Kecepatan Kereta ke Merak Akan Ditingkatkan

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumad, dalam inspeksi jalur kereta dari Jakarta menuju Serang, Banten, Sabtu (18/1/2020), mengatakan akan mengaktifkan lagi jalur kereta Rangkasbitung menuju Pandeglang.

Proses reaktifasi berlangsung dua tahap, yaitu tahap pertama sepanjang 18,7 KM antara Rangkasbitung - Pandeglang dan tahap kedua sepanjang 37,9 KM antara Pandeglang- Labuan. Adapun tahap pertama direncanakan selesai pada tahun 2020.

"Insyaallah akhir tahun ini kelar," kata Budi Karya, saat menuju Stasiun Rangkasbitung, Lebak, Sabtu (18/1/2020).

Pada tahap pertama fokus Kemhub ialah pada peningkatan elektrifikasi. Di mana jalur Rangkasbitung-Pandeglang akan menggunakan kereta lokal dan bukan KRL Commuterline.

Sementara, jika animo masyarakat yang memakai kereta api di jalur tersebut relatif tinggi, yaitu mencapai 50 perjalanan per hari, maka Kemenhub akan menggantinya menjadi Commuterline.

"Nanti one day kalau sudah dibutuhkan permintaan banyak, baru kita tingkatkan. Kalau sudah di atas 50 perjalanan sehari, kita pakai KRL. Kalau lebih dari 100, baru kita double track (rel ganda)," terang Budi.



Sumber: BeritaSatu.com