KPN Tingkatkan Pemulihan Trauma Korban Bencana

KPN Tingkatkan Pemulihan Trauma Korban Bencana
Komite Penggerak Nawacita (KPN) Peduli Bencana terus mendampingi para korban bencana di Kabupaten Bogor (Jawa Barat) dan Kabupaten Lebak, (Banten). ( Foto: Ist )
Heriyanto / HS Jumat, 24 Januari 2020 | 13:16 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Komite Penggerak Nawacita (KPN) Peduli Bencana terus mendampingi para korban bencana, khususnya di Kabupaten Bogor (Jawa Barat) dan Kabupaten Lebak, Banten. Seetelah terjun sejak awal Januari 2020 lalu, KPN Peduli Bencana terus mendorong pemulihan trauma (trauma healing) ratusan korban bencana.

Koordinator KPN Peduli Bencana Januar Firmansyah dalam keterangan yang diterima SP, Jumat (24/1), menjelaskan sejak awal pihaknya sudah menyalurkan bantuan sandang dan pangan di Jabodetabek. Bantuan semakin intensif diberikan kepada kepada para korban bencana di kawasan Bogor dan Lebak yang cukup parah kondisinya.

“Berbagai bantuan yang disalurkan tersebut untuk meringankan beban para korban. Kami terus mengoptimalkan sumbangan yang sudah dititipkan kepada kami agar bisa tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat di lokasi bencana,” kata Januar.

KPN Peduli Bencana merupakan koalisi sejumlah alumi perguruan tinggi dan elemen-elemen yang mempunyai keprihatinan atas kondisi yang ada. Ada beberapa lokasi yang mendapatkan bantuan dan para relawan KPN Peduli Bencana pun terjun langsung ke lokasi bencana.

Perwakilan KPN Peduli Bencana dari Komunitas Alumni Perguruan Tinggi (KAPT) Shane M Hasibuan menjelaskan setelah banyak bantuan makanan dan pakaian, pihaknya juga fokus membantu pemulihan trauma (trauma healing) yang dialami ratuasan korban bencana, terutama ibu-ibu dan anak-anak. Pemulihan trauma itu terus ditingkatkan karena masih adanya ketakutan pada bencana susulan dan trauma atas kehilangan harta benda serta sanak keluarga.

“Sekalipun bencana semakin mereda, ketakutan dan trauma dari para korban masih tinggi. Musibah banjir dan tanah longsor yang terjadi tidak hanya menghilangkan harta benda namun juga memunculkan trauma dan ketakutan akan ada bencana susulan,” kata Shane.

Untuk itu, lanjut dia, sangat diperlukan pendampingan dan penyuluhan terkait antisipasi bencana dan apa saja yang harus disiapkan agar meminimalisasi korban.
Trauma healing diberikan kepada korban bencana yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam penanganan dampak psikologis bencana. Umumnya orang tua dan lanjut usia, anak-anak, ibu-ibu, dan penyandang disabilitas,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan