Kasus Pelajar Bunuh Begal

Dengan Terpaksa, ZA Terima Vonis Hakim

Dengan Terpaksa, ZA Terima Vonis Hakim
Ilustrasi ( Foto: Istimewa )
Aries Sudiono / FMB Jumat, 24 Januari 2020 | 15:51 WIB

Malang, Beritasatu.com - Pemuda berinisial ZA (17) pelajar kelas XII SMK di Kabupaten Malang, Jatim, yang divonis bersalah oleh hakim tunggal Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Kabupaten Malang, Nuny Defiary karena dinilai melanggar Pasal 351 ayat 1 dan 2 KUHP yakni penganiayaan yang mengakibatkan begal Misnan (34) tewas, dengan amat terpaksa menerima putusan tersebut. Remaja ZA didampingi penasihat hukumnya, Bhakti Riza Hidayat, menandatangani berita acara putusan hakim di ruang Panitera PN Kepanjen, Malang, Jumat (24/1/2020).

ZA mengaku tidak mampu berbuat lain (untuk banding), karena ayah asuhnya yang sudah tua, Sudarto (69) menyatakan ikhlas ia menjalani pidana pembinaan alias ‘nyantri’ selama satu tahun di Panti Asuhan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam, yang ada di dalam Pondok Pesantren (Ponpes) Al Huda di Desa Patokpicis, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.

“Demi orangtua, saya menerima putusan hakim,” lirih ZA.

Kasus Pelajar Bunuh Begal, ZA Divonis Hukuman Pembinaan Setahun

ZA mengambil pisau bekas yang dia pakai untuk kegiatan prakarya di sekolah, yang masih tersimpan di bawah jok motor yang hendak dirampas begal Misnan dan kawan-kawan (dkk). Spontan, ZA menusukkan ke dada begal yang memegang lengan kekasihnya yang akan diperkosa. Ia mengaku karena dalam kondisi sangat tertekan, ia tidak bisa berpikir lain kecuali melawan membela diri.

Bhakti Riza Hidayat sejak awal menyatakan pikir-pikir atas putusan hakim tunggal Nuny Defiary yang mengesampingkan pledoinya yang berisikan keterangan saksi kunci yaitu kekasih ZA berinisial FF alias VN (16), guru prakarya SMK tempat ZA menimba ilmu, serta keterangan saksi ahli pakar hukum pidana anak dari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) Malang, bahwa apa yang dilakukan ZA adalah pembelaan diri dan dapat dimaklumi, dimaafkan sebagaimana dijamin oleh Pasal 49 KUHP ayat 1 dan 2. Seharusnya hakim berani memutuskan bebas bagi ZA karena memenuhi unsur (pengecualian) pemaaf.

“Saya sebenarnya tidak tega, karena saya sendiri juga belum tahu, bagaimana itu LKSA Wajak. Namun karena disebutkan sebagai panti asuhan ponpes, dengan terpaksa kita harus lapang dada dan ikhlas ZA dijatuhi hukuman pembinaan dengan ‘nyantri’ di LKSA Darul Aitam di Ponpes Al Huda, selama setahun. Ini agar persidangan itu tidak membuat pikiran ZA kacau sehingga mempengaruhi masa depannya,” ujar Sudarto yang ditemui mengantar ZA membubuhkan tanda tangan di berita acara putusan di ruang Kepaniteraan PN Kepanjen.

Ia agak terkejut ketika seorang wartawan mengungkapkan, bahwa nantinya ZA dalam surat permohonan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian), bisa dipastikan akan tercantum keterangan eks narapidana. “Waduh. Itu kita pikirkan nanti saja ya,” ujarnya gugup.

Sudarto mengaku bisa memahami bahwa ZA bertindak nekad demi membela kekasihnya yang hendak diperkosa korban begal Misnan di depan matanya. “Karma (tuntutan dan putusan) itu pasti kelak akan berbuah,” ujar Sudarto pasrah. Yang terpenting sekarang ini agar kasus yang membelit anaknya di pengadilan segera berakhir. “Yang lain-lain, kita pikirkan belakangan,” tambah Sudarto dengan nada lirih. Sementara ZA sendiri menyerahkan semuanya kepada orangtuanya dan penasihat hukumnya.

Pengacara Bhakti Riza Hidayat sebelumnya berulang kali menjelaskan kepada orangtua dan keluarga ZA, bahwa empat tuntutan dalam dakwaan yang disampaikan jaksa, tidak semuanya dapat dibuktikan dalam proses persidangan tertutup yang berlangsung perdana, Selasa (14/1). JPU menyampaikan empat pasal tuntutan dakwaan terhadap ZA meliputi Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman penjara seumur hidup, subsider Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara, lebih subsider Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian dengan ancaman penjara maksimal tujuh tahun, dan lebih subsider lagi, Pasal 2 ayat 1 Undang-undang Darurat nomor 12 tahun 1951 dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

Jaksa sendiri kemudian menggugurkan pasal-pasal pembunuhan dan mengenakan pasal penganiayaan yang mengakibatkan korban (begal Misnan) mati. Penasihat hukum alumnus FH UB Malang itu kecewa karena hakim tidak mempedulikan Pasal 49 KUHP ayat 1 dan 2 sehingga mengabaikan dalam pertimbangan vonisnya. ZA mengakui menikam begal itu satu kali di dadanya dengan pisau yang diambil dari bawah jok motor kekasihnya FF alias VN. Namun ia sama sekali tidak punya rencana melakukan penganiayaan kecuali membela kekasihnya yang hendak diperkosa begal Misnan di depan matanya.

“Pasal pembelaan dalam KUHP itu merupakan unsur pembenar dan pemaafnya. Sayang tidak dipertimbangkan,” ujar Bhakti sambil memegang kepalanya tanda tidak habis pikir dengan vonis tersebut. Keluarga ZA menerima vonis itu agar kasus yang membelit ZA segera berakhir.



Sumber: Suara Pembaruan