Menhan Prabowo dan Wamenhan Sakti Saling Melengkapi

Menhan Prabowo dan Wamenhan Sakti Saling Melengkapi
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (kanan) bersama Wamenhan Sakti Wahyu Trenggono mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (20/1/2020). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Yustinus Paat / FMB Minggu, 26 Januari 2020 | 12:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati menilai Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Wakil Menhan Sakti Wahyu Trenggono saling bersinergi selama 100 hari bekerja. Menurutnya, kinerja di yang dilakukan oleh Prabowo dan Sakti tidak bisa dilihat secara terpisah.

“Jangan dilihat secara terpisah di mana sesungguhnya apa yang dilakukan keduanya bersinergi,” ujar Susan dalam pesan singkat, Minggu (26/1/2020).

Susan menuturkan Prabowo dan Sakti saling melengkapi dalam bekerja. Dia pun sepakat Prabowo berperan lebih kepada mengembalikan Sishanrata dan melakukan diplomasi pertahanan geopolitik dan geostrategi. Sementara Sakti ingin merevitalisasi industri pertahanan agar memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi dan menekan current account deficit.

Lebih lanjut, Susan berharap pertahanan negara pada tahun 2020 adalah meneruskan Program Minimum Essential Force (MEF) 2020-2024 sesuai dengan tahapan yang sudah berjalan selama ini. Dia meminta Prabowo memanfaatkan hasil kunjungannya ke Turki dan Tiongkok agar terbuka peluang akselerasi di dalam pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI.

“Berbagai sistem persenjataan yang ditawarkan kedua negara dinilai cukup proporsional di dalam mewujudkan Network Centric Warfare sebagaimana yang telah dicanangkan Panglima TNI selama ini,” kata dia.

“Baik Program MEF 2020-2024 yang diintegrasikan ke dalam Network Centric Warfare merupakan sistem pertahanan negara yang jauh lebih efektif dan efisien,” ujar Susan menambahkan.

Susan juga memandang rencana pemenuhan Alutsista TNI lima tahun mendatang juga patut disambut dengan baik mengingat Organisasi TNI yang baru telah disahkan melalui Perpres Nomor 66 Tahun 2019. Penggelaran kekuatan TNI di Indonesia bagian Timur, kata dia, menjadi perhatian pemerintah dengan konsentrasi penyelesaian separatisme Papua.

"Kondisi keamanan di Papua juga dapat dinilai sebagai tolok ukur keberhasilan TNI di dalam melaksanakan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) sebagaimana dimuat dalam UU TNI dan RUU Perbantuan TNI. Dari data-data intelijen beberapa tahun terakhir maka TNI diharapkan lebih aktif lagi di dalam mewujudkan stabilitas keamanan regional,” ungkap dia.

Di sisi lain, Susan meminta TNI harus menunjukkan leadership di antara militer negara-negara anggota ASEAN. TNI dapat menyusun program aksi keamanan regional sesuai dengan ASEAN Political-Security Community yang telah dicanangkan sejak 2015.

“Kawasan perairan Laut Sulu antara Indonesia-Filipina-Malaysia dapat menjadi fokus TNI di dalam menunjukkan leadership di ASEAN. Dengan mewujudkan ketahanan regional, maka otomatis TNI juga dapat mewujudkan ketahanan nasional,” tandas dia.

Lebih dari itu, Susan menyebut perkembangan teknologi militer seiring dengan Revolusi Industri 4.0 menuntut Kemenhan dan Mabes TNI untuk lebih berinovasi menciptakan taktik peperangan dan strategi tempur yang lebih baik dan sesuai dengan Alutsista yang dimiliki.

"Di sinilah terlihat pilihan Jokowi terhadap Prabowo-Trenggono untuk mengawal pertahanan nasional sudah tepat karena kompetensi keduanya saling mengisi di samping sebagai wujud dari rekonsiliasi nasional mengingat latar belakang keduanya kala Pilpres 2019," pungkas Susan.



Sumber: BeritaSatu.com