Potensi Bencana Intai Kabupaten Bandung Hingga Pertengahan Februari

Potensi Bencana Intai Kabupaten Bandung Hingga Pertengahan Februari
Banjir di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. ( Foto: Antara )
Adi Marsiela / WBP Minggu, 26 Januari 2020 | 16:35 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Teddy Kusdiana meminta seluruh aparat kewilayahan mengantisipasi dampak bencana akibat tingginya curah hujan seperti banjir, dan tanah longsor. Peringatan itu dia tuangkan dalam surat yang disebarkan kepada seluruh camat se-Kabupaten Bandung sejak 9 Januari 2020 lalu.

“Prediksi cuaca ekstrim tahun 2020 berdasarkan informasi dari BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) bakal terjadi pada pertengahan Januari hingga pertengahan Februari 2020,” tegas Teddy yang juga menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung ini Minggu (26/1/2020).

Terkait bencana banjir yang melanda lima kecamatan di Kabupaten Bandung sejak Jumat (24/1/2020) Teddy memaparkan, ada sedikitnya 11.659 kepala keluarga atau 40.844 jiwa terdampak banjir. “Sebanyak 208 kepala keluarga atau 695 jiwa mengungsi,” terang Teddy Kusdiana.

Korban banjir itu tersebar di Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Rancaekek, dan Kabupaten Majalaya. Teddy menjelaskan, banjir akibat tingginya curah hujan yang mengguyur kawasan Bandung Raya ikut merendam 7.638 rumah, 13 sekolah, serta 32 tempat ibadah. “Ketinggian air mulai dari 10 sentimeter sampai 200 sentimeter,” imbuh Teddy Kusdiana.

Teddy sudah menyampaikan agar pimpinan kewilayahan melakukan penguatan kesiapsigaan dan peringatan dini seperti mengecek atau memeriksa saluran air, pompa, tanggul-tanggul kritis, pintur air, dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Dalam surat itu, dia melampirkan potensi bencana banjir, banjir bandang, serta tanah longsor yang mungkin terjadi pada 63 desa di 7 kecamatan se-Kabupaten Bandung. Dari tujuh kecamatan itu, seluruh desa di Kecamatan Baleendah (8 desa) dan Bojongsoang (6 desa) terancam banjir.

“Ambil langkah penguatan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di masing-masing wilayah dengan menyiapkan sumber daya dan sistem informasi terutama pada daerah berkumpulnya masyarakat seperti tempat wisata, rumah sakit, pasar, dan fasilitas umum lainnya,” tegas Teddy dalam suratnya.

Pantauan Automatic Water Level Recorder milik Perum Jasa Tirta II di Dayeuhkolot, debit air yang masuk ke Sungai Citarum meninggi secara bertahap mulai Sabtu (25/1/2020) pukul 15.00. Naiknya debit air ini seiring hujan deras yang mengguyur kawasan Bandung Raya.

Debit air yang semula 303.018 meter kubik per detik pada pukul dua sore, naik jadi 318.667 meter kubik per detik pada pukul tiga sore. Debit tertinggi 346,47 meter kubik per detik tercatat pada pukul 23.00. Debit air ini terus menurun hingga Minggu (26/1/2020) sekitar pukul 15.00 jadi 323.6 meter kubik per detik.

Peningkatan debit air berdampak pada ketinggian muka air di sungai tersebut. Banjir terpantau menggenangi kawasan Bandung selatan pada Juma (24/1/2020). Hal ini seiring naiknya tinggi muka air di Sungai Citarum.

Sejak Kamis (23/1/2020) pukul 04.00 dini hari, tinggi muka air di titik pantau Dayeuhkolot melebih ambang batas bahaya 659 meter di atas permukaan laut. Apabila tinggi muka air melebihi ambang batas, maka air akan melimpas ke wilayah di sekitarnya seperti lima kecamatan di Kabupaten Bandung.

Tinggi muka air ini sempat bertambah hingga 660.12 meter di atas permukaan laut sekitar pukul 4-8 pagi pada Sabtu (25/1/2020) dan terus menurun hingga 659.94 meter di atas permukaan laut pada Mingg (26/1/2020) pukul 15.00.

Apabila hujan deras kembali mengguyur wilayah Bandung Raya dalam kurun waktu tiga hingga empat jam, tinggi muka air itu akan kembali meninggi.



Sumber: Suara Pembaruan