Polda Papua Dalami Kontak Senjata KKB

Polda Papua Dalami Kontak Senjata KKB
Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw. ( Foto: Antara / Anita Permata Dewi )
Yeremia Sukoyo / CAH Selasa, 28 Januari 2020 | 11:05 WIB

 

Jakarta - Kontak senjata kembali terjadi di Kampung Jupara, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, akhir pekan lalu. Dalam peristiwa tersebut, pasukan TNI-Polri berhasil mengevakuasi seseorang yang diduga anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang ditemukan tewas tertembak.

Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw, menjelaskan, hingga saat ini pihaknya masih mendalami peristiwa tersebut karena diduga KKB juga telah menganiaya warga sipil.

"Iya, ini ada juga yang sedang kita dalami, karena mereka juga menganiaya masyarakat sipil," kata Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw, sesaat setelah mengikuti Rapim TNI-Polri tahun 2020, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (28/1/2020).

Dijelaskan Kapolda, dari informasi yang didapat telah terjadi penganiayaan di sebuah perusahaan yang berada tidak jauh dari lokasi kontak senjata. Saat ini kepolisian bersama dengan TNI juga masih melakukan evakuasi.

"Kita sedang evakuasi, nanti kepastiannya akan saya berikan laporan setelah evakuasi, itu jauh dari ibu kota. Itulah fakta bahwa mereka terus menunjukkan eksistensi mereka, kami tangani terus," ucapnya.

Ditegaskan Kapolda Papua, dalam kontak senjata diduga dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Lekagak Talenggeng (LT). "Inisialnya siapa ya? LT ya, kelompok LT," ucapnya.

Kejadian bermula dari serangan kelompok KKB yang diarahkan ke Pos Ramil 1705-11/Sugapa. Mendengar rentetan tembakan, anggota Pos Ramil dan Yonif 433/JS langsung berlindung. Mereka masuk steeling kemudian memberikan serangan balasan.

Usai kontak tembak, pasukan TNI-Polri melakukan pembersihan area. Mereka menemukan satu jasad KKB tergeletak dengan luka tembak. Pada saat penyisiran, Satgas Pinang Sirih yang terdiri dari anggota Yonif 433/JS juga mengamankan seorang warga sipil yang diduga simpatisan KKB. 

 



Sumber: Suara Pembaruan