Menkominfo: Pers Harus Punya Invensi, Inovasi, dan Investasi Agar Tetap Eksis

Menkominfo: Pers Harus Punya Invensi, Inovasi, dan Investasi Agar Tetap Eksis
Menkominfo Johnny G. Plate (kiri). (Foto: ANTARA FOTO / Galih Pradipta)
Yustinus Paat / JAS Minggu, 9 Februari 2020 | 17:49 WIB

Banjarmasin, Beritasatu.com - Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate mengatakan tantangan media massa atau pers sangat besar di era disrupsi. Karena itu, Johnny mengingatkan ekosistem pers nasional harus memperhatikan invensi, inovasi, dan investasi yang kemudian disebutnya dengan konsep 3I.

"Melalui konsep 3I, ia yakin industri media di era disrupsi ini tetap eksis dan berkembang. Bila tidak memperhatikan 3I, media massa tersebut tak akan maju dan bahkan cenderung mati sendiri. Kita akan tertinggal kalau kita tidak melakukan invensi,” ujar Menteri Johnny di acara Konvensi Nasional Media Massa-Hari Pers Nasional (KNMM-HPN), Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (08/02/2020).

Era disrupsi saat ini, lanjut Menteri Johnny, tidak hanya menyoal begitu hebatnya teknologi tetapi juga kekuatan modal yang begitu besar dihadapi bangsa ini. Pers Indonesia, kata dia perlu melihat konsolidasi nasional dan memperkuat soliditas sebagai salah satu cara menjawab tantangan tersebut.

“Bagaimana kita mengatur dan menata industri ini di dalam negeri, jadi kita enggak bisa lihat lagi paham-paham monopolistik, berpikir sendiri-sendiri,” papar dia.

Lebih lanjut, Menteri Johnny menjelaskan konsep 3I harus menjadi suatu keharusan yang mutlak. Pasalnya, tanpa inovasi yang relevan dengan kepentingan pasarnya, meng-create pasarnya membantu solidaritas pasar domestik, maka tentu hanya akan menjadi sunset industri.

"Kecepatan mengambil keputusan dan mitigasi menurutnya juga berisiko terhadap kemampuan untuk mengambil keputusan investasi," tandas dia.

Menteri Johnny dalam kesempatan tersebut yang disaksikan para pemimpin redaksi (pemred) dan awak jurnalis dari berbagai media nasional, berpesan agar pengelola media massa harus bersatu dan memiliki kekuatan yang utuh.

Sebagai contoh, penyedia kabel optik sebagai sarana dan prasarana komunikasi atau media digital masing-masing yang saling bersatu sehingga bisa menjadi kekuatan dahsyat untuk industri telekomunikasi di Tanah Air.

"Selain itu, saya juga mengingatkan sekaligus mengajak insan pers agar mengambil bagian penting dalam upaya bangsa ini memerangi hoax atau berita bohong. Karena berita hoax itu hanya akan menghabiskan energi atau suatu hal yang sia-sia dalam membangun negara dan bangsa ini," imbuh dia.

Harapan Besar untuk Pers Indonesia

Menteri Johnny menaruh harapan besar untuk ekosistem pers di Indonesia. Selain menginginkan adanya invensi, inovasi, dan investasi yang lebih baik, perayaan HPN 2020 ini juga ternyata mengingatkannya sewaktu berkeinginan menjadi seorang jurnalis. "Saya saking cinta ini pers, saya dulu berkeinginan menjadi insan pers, menjadi wartawan," ucapnya.

Menteri Johnny berpandangan bahwa menjadi seorang pewarta bukan perkara yang mudah, sehingga keinginan menjadi wartawan tidak terwujud dikarenakan belum memiliki keberanian untuk terjun ke dunia jurnalistik kala itu. Dari pengalamannya itu, dia berpandangan bahwa syarat menjadi jurnalis juga harus kompetitif.

“Menurut pandangan saya, seseorang wartawan dicitrakan sebagai orang hebat, sehingga menjadi wartawan bukan perkara gampang, ternyata rekan-rekan di sini jauh lebih hebat dari saya, karena saya termasuk yang kecut dan pengecut tidak berani mengambil profesi sebagai insan pers," tandasn dia.

Harapan lain Menteri Johnny di HPN 2020 ini, pribadi seorang pewarta harus menanamkan tiga prinsip penting, yakni sintaksis, morfologi, dan semantik atau SMS. Menurutnya, hal itu merupakan wujud kekuatan bagi wartawan dalam upaya menghasilkan industri media yang hebat.

"Saya sampaikan dan menyapa dirgahayu pers Indonesia, selamat Hari Pers Nasional kita," pungkas dia.



Sumber: BeritaSatu.com