Polisi Kembali Gagalkan Penyelundupan 35 Sabu dari Malaysia

Polisi Kembali Gagalkan Penyelundupan 35 Sabu dari Malaysia
Ilustrasi sabu-sabu. ( Foto: Antara/Jojon )
Gardi Gazarin / RSAT Minggu, 9 Februari 2020 | 17:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polisi kembali berhasil menggagalkan penyelundupan 35 kilogram sabu  dari Malaysia ke Indonesia, di Pelabuhan 9 Dumai, Riau. Kali ini barang haram dari Malaysia tersebut diselundupkan melalui  jalur laut dengan cara disembunyikan di dalam badan speed boat.

"Keberhasilan membongkar aksi penyelundupan puluhan kilogram sabu itu berkat informasi masyarakat," ujar Kapolda Riau Irjen Agung S Imam Effendi kepada SP, Minggu (9/2/2020).

Dijelaskan pada Rabu (5/2/2020) serkitar pukul 16.40 WIB, polisi menemukan speed boat warna biru yang dicurigai. Setelah digeledah, polisi menemukan 35 kilogram sabu yang disembunyikan di dalam badan speed boat tersebut. Polisi juga mengamankan dua tersangka sebagai transporter laut berinisial MA (31) dan AB (25).

Dua  tersangka yang mengaku hanya sebagai kurir ditangkap setelah polisi melakukan pengintaian di sekitar Pelabuhan Rakyat Nerbit Besar, Kecamatan Sungai Sembilan, Dumai, Riau. Dalam pemeriksaan keduanya mengaku membawa sabu dari Malaysia dengan upah Rp 5 juta per kilogram.

Pemiliknya  seorang bandar narkoba berinisial S yang kini berstatus DPO. "Tersangka S menawarkan kepada MA untuk membawa sabu dengan imbalan Rp 5 juta per paketnya," kata Irjen Agung.

Sabu dimasukan dalam dua bungkusan besar dengan berat masing-masing 14 dan 21 kilogram. Selain itu juga ditemukan 36 botol cairan vape.

Kapolda Agung mengatakan, modusnya tersangka S menghubungi MA untuk menjemput 1 cincin berlian dan 3 batu alam ke tepi pantai. Cincin berlian dan 3 batu alam itu dijadikan sebagai sandi untuk ketemu dengan BCL (becak laut) dari pihak orang Malaysia.

Saat kurir WNI dan kurir Malaysia bertemu yang membawa sabu dalam speed boat akan menanyakan soal cincin. Setelah kurir WNI memberikan cincin, maka kurir Malaysia akan percaya dan menyerahkan speed boat pada kurir WNI, yakni MA dan AB.

Kedua pelaku dijerat Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 112 ayat (2) UU RI NO 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman mati atau penjara paling singkat 5 tahun, paling lama 20 penjara.



Sumber: Suara Pembaruan