Banyak ASN Gagal Seleksi Eselon karena Terpapar Radikalisme

Banyak ASN Gagal Seleksi Eselon karena Terpapar Radikalisme
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo dalam pengarahannya pada acara penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Reformasi Birokrasi (RB) Pemda DIY dan Pemkab/Kota se-DIY di Gedong Pracimosono, Kepatihan, Yogyakarta, Senin, 4 November 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Fuska Sani )
Dwi Argo Santosa / DAS Senin, 10 Februari 2020 | 14:23 WIB

Batam, Beritasatu.com - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo menyatakan sejumlah aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil gagal dalam seleksi eselon 1 dan 2 karena terpapar radikalisme.

Eselon I merupakan jabatan struktural yang tertinggi. Dalam jenjang pangkat ini terendah adalah Golongan IV/c dan tertinggi Golongan IV/e. Dalam pemerintahan, mereka yang duduk di level ini biasanya berfungsi sebagai penanggungjawab efektivitas pemerintahan yang dipimpinnya. Keahliannya antara lain menetapkan kebijakan-kebijakan pokok untuk  mencapai sasaran-sasaran jangka pendek maupun jangka panjang.

"Banyak, saya kira banyak," kata Menteri Tjahjo Kumolo dalam sambutannya pada penyerahan evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (SAKIP) di Batam, Kepulauan Riau, Senin (10/2/2020). SAKIP merupakan integrasi dari sistem perencanaan, sistem penganggaran dan sistem pelaporan kinerja, yang selaras dengan pelaksanaan sistem akuntabilitas keuangan.

Tjahjo Kumolo tidak menyebut angka pasti jumlah ASN yang terpapar paham radikal sehingga gagal lolos seleksi. Pun demikian tidak dijelaskan terhadap mereka yang tidak lolos ini pembinaan seperti apa yang dilakukan.

Tjahjo menambahkan pejabat eselon 1 dan 2 harus bersih dari paparan radikalisme, narkoba, dan korupsi. Pejabat eselon 1 dan 2 harus memahami masalah gratifikasi dan PPATK.

Karenanya, seluruh ASN diminta berhati-hati terkait radikalisme dan terorisme. Jangan sampai, seseorang sudah ingin menjadi pejabat eselon dan didukung, namun tersandung masalah itu. "Bagaimana mau menjabat eselon 1 dan 2, tapi pola pikirnya sudah mengarah ke sana," kata Menteri.

Menteri mengatakan ancaman terbesar, antara lain radikalisme dan terorisme, narkoba dan korupsi. "Tantangan bangsa radikalisme dan terorisme. Ini prinsip," kata dia.

Menteri juga mengingatkan seluruh ASN berhati-hati menggunakan media sosial, agar tidak tersandung masalah.



Sumber: ANTARA