Setelah 14 Hari, WNI dari Tiongkok di Natuna Dipulangkan Lewat Jakarta

Setelah 14 Hari, WNI dari Tiongkok di Natuna Dipulangkan Lewat Jakarta
Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) beraktivitas di Hanggar Pangkalan Udara Raden Sadjad, saat masa observasi pascaevakuasi dari Wuhan China di Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, Selasa, 4 Februari 2020. ( Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww )
Dina Manafe / JAS Senin, 10 Februari 2020 | 18:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah melalui tim penanganan karantina warga negara Indonesia (WNI) di Natuna, Kepulauan Riau sudah menyiapkan skema untuk kepulangan mereka. Setelah selesai masa observasi selama 14 hari, WNI yang dievakuasi dari Wuhan, Tiongkok karena wabah novel coronavirus (nCoV) atau virus korona akan dipulangkan kembali ke keluarganya melalui Jakarta.

Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemkes), Achmad Yurianto mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyiapkan proses pemulangan WNI di Natuna. Banyak opsi sedang dipertimbangkan.

Namun yang pasti mereka tidak akan dipulangkan ke daerahnya masing-masing langsung dari Natuna. Kemungkinan besar mereka dikirim ke Jakarta, baru dijemput oleh pemerintah daerah atau keluarganya.

“Tidak bisa langsung dari Natuna, karena kita tahu akses datang maupun pergi ke Natuna sangat terbatas. Sehingga kita jadwalkan diantar sampai ke Jakarta. Dan kita sudah koordinasi dengan beberapa pemerintah daerah, nanti mereka jemput di Jakarta,” kata Yurianto di Kantor Kemkes, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Diketahui total WNI yang sedang dikarantina di Lanud Raden Sadjad, Natuna, Kepulauan Riau adalah 285 orang. Mereka terdiri 238 orang WNI dan 1 WNA (suami WNI) yang dievakuasi dari Provinsi Hubei, 27 tim penjemput, 15 kru Batik Airlines dan 5 tim aju (edvance).

Mereka berhasil dievakuasi dan tiba di Indonesia, Minggu (2/2/2020) setelah melalui screening di Tiongkok yang menyatakan mereka dalam kondisi sehat. Selama 14 hari mereka akan dilakukan observasi kesehatan untuk memastikan kesehatannya baik dan tidak berpotensi tertular nCoV dari Wuhan, tempat pertama virus ini ditemukan.

Yurianto mengatakan, pihaknya mematuhi protokol World Health Organisation (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia agar masa karantina adalah 14 hari. Empat belas hari ini adalah masa inkubasi nCoV. Artinya sejak virus ini masuk ke tubuh seseorang sampai dia menimbulkan gejala sakit adalah 1 sampai 14 hari.

Selama itu seseorang yang memiliki riwayat perjalanan ke kota yang terinfeksi atau kontak langsung dengan pasien positif nCoV harus dikarantina untuk dilakukan observasi kesehatan. Setelah masa inkubasi ini tidak muncul gejala sama sekali maka diyakini yang bersangkutan tidak mengidap nCoV.

“Jadi protokol dunia adalah 14 hari. Kalau kita pulangkan lebih cepat karena kelihatan sehat-sehat saja, itu sama dengan kita melanggar protokol,” kata Yurianto.

Penyebaran virus korona Wuhan terus meluas dan menelan banyak korban. Kebanyakan korban dilaporkan dari Provinsi Hubei, Tiongkok. Mengutip dari South China Morning Post per Senin (10/2/2020), otoritas kesehatan Tiongkok melaporkan 97 kematian baru pada Minggu (9/2/2020).

Dengan penambahan ini maka total kematian di seluruh dunia mencapai 910 orang, meningkat dari sehari sebelumnya adalah 813 orang. Dua kematian terjadi di luar dataran Tiongkok, yaitu 1 I Filipina, dan 1 lagi di Hong Kong.

Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok melaporkan 3.062 kasus infeksi baru pada hari Minggu tengah malam, sehingga total yang positif saat ini dilaporkan mencapai 40.171. Dari semua yang sedang dirawat di rumah sakit, sebanyak 6.500 dilaporkan dalam kondisi berat. Di Indonesia sendiri hingga saat ini belum dilaporkan kasus positif nCoV.



Sumber: Suara Pembaruan