BNPT Gandeng Pengusaha untuk Berdayakan Ekonomi Mantan Napiter

BNPT Gandeng Pengusaha untuk Berdayakan Ekonomi Mantan Napiter
Suhardi Alius. ( Foto: Antara / Aditya Pradana Putra )
Bernadus Wijayaka / BW Senin, 10 Februari 2020 | 20:44 WIB

Jakarta,  Beritasatu.com - Pemberdayaan bagi para mantan narapidana terorisme (napiter) dan korban dari aksi terorisme (penyintas) tentunya sangat penting untuk dilakukan. Hal ini sebagai bentuk kepedulian negara kepada mereka yang sudah sadar dan juga para korban aksi terorisme. 

Tentu hal ini tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja karena perlu kerja sama dari berbagai pihak untuk menyelesaikan permasalahan radikal terorisme ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius seusai menghadiri acara Reconcile Perspektif Keadilan Sosial dan Peran Dunia Usaha Dalam Pencegahan dan Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme.

Acara yang berlangsung di Hotel Grand Tjokro, Jakarta, Minggu (9/2/2020) malam tersebut menghadirkan para mantan napiter, penyintas, dan pelaku dunia usaha.

"Dari pertemuan malam ini kita bisa memberi inspirasi kepada rekan-rekan pengusaha, yayasan dan lainnya untuk bersama-sama mengatasi persoalan ini karena tidak mungkin semua bisa dikerjakan oleh pemerintah,” ujar Suhardi dalam keterangan tertulis,  Senin (10/2/2020)

Lebih lanjut Kepala BNPT menjelaskan, ada mantan teroris yang sudah sadar dan keluarga penyintas yang juga harus diperhatikan. Dengan adanya bantuan dari para pengusaha, maka dia berharap bisa membantu mereka semua khususnya dalam masalah ekonomi.

"Karena kalau kita bicara masalah radikal terorisme pasti ada hulu masalahnya dan itu sangat complicated, salah satunya adalah masalah ekonomi. Nah sekarang itu yang sedang kita urai salah satunya adalah kita beri akses untuk bantuan ekonomi. Sehingga jangan sampai mantan teroris yang sudah baik ini kembali (melakukan perbuatan) lagi,” tutur mantan Sekretaris Utama (Sestama) Lemhannas RI ini.

Untuk itu, mantan Kabareskrim Polri ini mengatakan, dengan bantuan dari mantan napiter yang sudah sadar, diharapkan bisa lebih efektif lagi untuk menyampaikan pesan kepada kelompok yang rentan terpapar paham tersebut agar bisa diluruskan kembali.

“Jadi kalau misalnya ada yang menggunakan dalil-dalil yang keras, yang salah, itu bisa diluruskan sama mereka mantan napiter ini. Nah ini sangat produktif menurut saya, kedepannya dengan bantuan mereka kita bisa menyadarkan kelompok-kelompok yang rentan ini,” ucap  mantan Kapolda Jawa Barat ini.

Kemudian untuk mantan napiter yang akan disalurkan sebagai tenaga kerja di perusahaan nantinya, menurut alumni Akpol tahun 1985 ini, tentu akan dilakukan proses asesmen terlebih dahulu dengan meibatkan berbagai unsur terkait.

 Hadir dalam kesempatan tersebut Yayasan Pelita Harapan Bangsa (YPHB) yang nantinya akan membantu mantan teroris di Indonesia.  YPHB akan membuat program khusus agar mantan pelaku radikalisme mudah mendapat pekerjaan. YPHB nantinya juga akan  menggandeng Kingdom Business Community (KBC) yang sedikitnya memiliki 15.000 anggota dari kalangan pengusaha swasta di dalam negeri.

Dalam kesempatan tersebut Perwakilan YPHB yang juga koordinator KBC, Julian Foe menyampaikan, para pengusaha ini siap membantu BNPT untuk mengatasi permasalah radikal terorisme khususnya di bidang ekonomi.



Sumber: Suara Pembaruan