Ganjar Biayai Pendidikan Siswi Korban Bullying Purworejo

Ganjar Biayai Pendidikan Siswi Korban Bullying Purworejo
Kapolres Purworejo, AKBP Rizal Marito, saat jumpa pers usai menetapkan tiga pelaku bullying SMP Purworejo sebagai tersangka, Kamis (13/2/2020). (Foto: Suara Pembaruan / Stefi Thenu)
Stefi Thenu / JEM Jumat, 14 Februari 2020 | 15:01 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo terus berupaya membujuk siswi korban bullying di salah satu sekolah di Purworejo untuk kembali ke sekolah. Siswi tersebut diusulkan pindah ke Sekolah Luar Biasa dengan semua biaya akan ditanggung pemerintah.

Ditemui usai rapat dengan Menteri Keuangan, Sri Mulyani di ruang dinas Gubernur, Jumat (14/2/2020), Ganjar menerangkan bahwa sampai saat ini pihaknya terus merayu agar si anak mau pindah sekolah.

"Rayuan kita kepada si anak ini, sampai tadi malam Insyaalah berhasil. Saya ingin, karena dia berkebutuhan khusus maka sekolahnya di tempat yang bisa memfasilitasi itu," ujarnya.

Menurutnya, ada satu sekolah luar biasa di Purworejo yang dapat menampung siswi korban bullying itu. Meskipun dia berstatus pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP), karena luar biasa maka itu menjadi tanggungjawab pemerintah Provinsi.

"Sudah saya carikan tempat kos, sudah dicarikan sekolahnya di sekolah kita yang ada di sana. Sekarang saya sedang merayu orang tuanya untuk menyetujui. Sampai tadi malam, orang tuanya 80 persen sudah mau," tegasnya.

Untuk biaya, Ganjar menegaskan akan menanggung seluruh biayanya. Mengingat, orang tua siswi tersebut hanya bekerja sebagai buruh.

"Karena ini bapaknya buruh, kami menjamin agar pendidikannya bisa berjalan dan masa depannya bisa baik. Biaya dari kami semuanya, kami yang menjamin," tambahnya.

Sementara itu, CA, korban bullying ternyata sudah sejak lama mengeluh tidak mau sekolah.

Ibu korban menuturkan, sebelum kejafian itu viral, setiap hari anaknya itu tidak mau sekolah karena sering dibully oleh teman-temannya.

"Saya menyesal sekali karena tidak tahu apa yang terjadi pada anak saya. Sebelumnya tiap pulang sekolah selama berbulan-bulan, buku dan pensilnya selalu hilang. Malah saya marahi, kok tiap hari harus beli buku dan pensil. Bahkan kantong roknya sering robek karena temannya sering memaksa mengambil uang langsung dari saku roknya," cerita wanita yang sehari-hari bekerja di pabrik.

Kejadian itu sudah pernah dilaporkannya ke sekolah, namun belum ada tindakan.

"Mulai Senin besok, saya akan tunggui anak saya di sekolah. Saya rela berhenti bekerja demi anak saya menyelesaikan sekolah," ungkapnya.

Dikatakan, CA akan mulai masuk sekolah kembali Senin (17/2/2020). CA dan keluarganya memutuskan masih akan melanjutkan sekolah di SMP yang sama.

Keluarga berharap agar kejadian itu tidak terjadi lagi dan pihaknya menyerahkan pada proses hukum yang berlaku. 



Sumber: BeritaSatu.com