Dekontaminasi Paparan Radioaktif Batan Indah Dilanjutkan Pekan Depan

Dekontaminasi Paparan Radioaktif Batan Indah Dilanjutkan Pekan Depan
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) meminta warga untuk tidak memasuki lokasi yang terkontaminasi paparan radiasi nuklir di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan. (Foto: Antara)
Ari Supriyanti Rikin / JAS Sabtu, 15 Februari 2020 | 09:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pengawasan Tenaga Nuklir (Bapeten) masih akan melanjutkan penyisiran dan investigasi ulang di kawasan tanah kosong Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan untuk memastikan paparan radioaktif di lokasi tersebut. Dekontaminasi dilakukan dengan mengeruk tanah dan menebang pohon di kawasan yang terpapar radioaktif tersebut.

Kepala Bagian Komunikasi Publik dan Protokol Bapeten Abdul Qohar mengatakan, dari penyisiran yang sudah dilakukan, pengerukan tanah dan pemotongan vegetasi atau pohon sudah dilakukan. Bersamaan dengan itu alat pengecekan radioaktif masih menunjukkan paparan masih di atas normal.

"Beberapa hari lalu (Rabu-Kamis) sesuai dengan arahan pimpinan, agar dilakukan dekontaminasi, hasil pengukurannya masih di atas normal. Maka kami lanjutkan minggu depan," katanya saat dihubungi, Sabtu (15/2/2020).

Saat ini lanjutnya, Bapeten bersama Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) juga fokus untuk melakukan tes kesehatan atau pemeriksaan whole body counting terhadap beberapa warga sekitar. Tes ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada kontaminasi terhadap warga sekitar.

Paparan radioaktif di tanah kosong, samping lapangan voli di Perumahan Batan Indah yang lokasi di dekat pintu gerbang masuk perumahan ini diketahui setelah Bapeten melakukan monitoring rutin sesuai dengan tugasnya.

Baca juga: Perumahan Batan Terkontaminasi Radiasi Nuklir, Warga Diminta Menjauh

Kegiatan rutin tersebut kata Abdul, adalah uji peralatan radio aktivitas lingkungan dengan target area Serpong. Untuk diketahui, di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang Selatan ada kawasan reaktor riset GA Siwabessy yang diresmikan tahun 1987 oleh Presiden Soeharto kala itu. Hingga ini aktivitas riset di reaktor nuklir tersebut masih beroperasi di bawah naungan Batan.

"Jadi kawasan yang dilakukan pengecekan tidak hanya di Batan Indah, tetapi juga di Pamulang, perumahan sekitar sampai dengan stasiun Serpong. Pengecekan dilakukan 30-31 Januari 2020," ungkapnya.

Untuk daerah di luar Batan Indah, kata dia, kondisinya normal. Namun ketika tim masuk ke komplek Batan Indah ada peningkatan paparan radioaktif yang ditandai dari perubahan warna di alat uji.

Jika dalam kondisi normal alat uji akan menampilkan warna biru. Tetapi saat masuk Batan Indah warnanya berubah menjadi hijau atau tidak normal indikasi ada paparan radioaktif. Kemudian dilakukan penyisiran dan didapati di areal tanah kosong di samping lapangan voli, alat uji menunjukkan hasil paparan cukup tinggi.

"Di beberapa hotspot secara umum cukup tinggi. Lalu dilakukan isolasi lokasi dan diambil sampel tanah untuk diuji di laboratorium Pusat Teknologi Keselamatan dan Meteorologi Radiasi Batan di Pasar Jumat," paparnya.

Lalu sambil menunggu hasil, pada 7-8 Februari 2020 diputuskan kegiatan pencarian sumber radioaktif. Akhirnya ditemukan beberapa serpihan yang diduga menjadi sumber penyebabnya dan akan diteliti lebih lanjut.

Setelah sumber diangkat lanjut Abdul, dilakukan kembali pengukuran dan hasilnya masih di atas normal. Dekontaminasi ini akan terus dilakukan hingga alat pengukuran menunjukkan hasil normal.

Sementara itu, dari hasil monitor Bapeten kondisi reaktor GA Siwabessy terpantau normal. Jarak GA Siwabessy ke Batan Indah sekitar 3 kilometer.

Untuk memastikan sumber radioaktif tambahnya, masih menunggu hasil laboratorium. Namun ia tidak tahu persis berapa lama dilakukan karena ditangani Batan.

Bersamaan dengan itu, aktivitas memonitor kawasan reaktor juga akan terus dipantau dan memang hal ini rutin dilakukan.

Dikutip dari berbagai sumber, selain berbahaya bagi lingkungan, paparan radioaktif skala besar atau berat juga berbahaya bagi manusia. Paparan radioaktif berat bisa menyebabkan kerusakan jaringan kulit, DNA, sistem pencernaan, kanker hingga kematian.



Sumber: BeritaSatu.com