Hari Raya Galungan, Warga Bali Diimbau Tak Pasang Penjor Dekat Jaringan Listrik

Hari Raya Galungan, Warga Bali Diimbau Tak Pasang Penjor Dekat Jaringan Listrik
Suasana pemasangan penjor menjelang hari suci Galungan di Bali. ( Foto: ANTARA/Komang Suparta. )
/ CAH Rabu, 19 Februari 2020 | 08:31 WIB

Denpasar, Beritasatu.com - Guna mencegah gangguan distribusi listrik,  PT Perusahaan Listrik Negara Unit Induk Distribusi (PLN-UID) Bali mengimbau masyarakat tidak memasang penjor di dekat jaringan listrik saat hari raya suci Galungan dan Kuningan.

"Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk berhati-hati memasang penjor, khususnya warga yang beragama Hindu di Bali saat  perayaan hari suci Galungan pada Rabu (19/2/2020)," kata Manajer Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali, I Made Arya, di Denpasar, Selasa (18/2/2020).

Ia mengatakan momentum perayaan hari suci Galungan dan Kuningan menjadi perhatian PLN Unit Induk Distribusi Bali, khususnya terhadap kebutuhan pemasangan penjor oleh masyarakat setempat.

"Kami mengharapkan kepada pelanggan agar tidak memasang penjor dekat dengan jaringan milik PLN. Ini untuk keamanan bersama," ucapnya.

Dia mengatakan pemasangan penjor dekat dengan jaringan listrik dikhawatirkan dapat membahayakan masyarakat. Pada musim hujan dan angin, terdapat potensi penjor basah terkena air atau terjatuh menimpa jaringan listrik PLN.

Pemasangan penjor, katanya, perlu memperhatikan jarak aman dari jaringan listrik, yakni minimal tiga meter

"Bila penjor berada dekat dengan jaringan listrik, pada kondisi basah dapat menjadi pengantar listrik dan dapat menyebabkan masyarakat tersetrum," katanya.

PLN UID Bali juga memberikan edukasi kepada para pegawai dan mitra kerja PLN dengan menyelenggarakan "Dharma Wacana" (pencerahan rohani) bertemakan "Makna Penjor Galungan yang Ramah Lingkungan" yang disampaikan rohaniawan Hindu Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Lingga Puja.

Dalam "Dharma Wacananya" itu disampaikan bahwa panjang penjor tujuh meter dengan ruas tujuh bindu (tujuh kolongan) panjang penjor diambil dari perhitungan sapta prenawa yang merupakan simbol dari tujuh gunung dan tujuh bindu yg disebut dengan jagat guru tempat yang tertinggi para dewa.

"Semua ini diambil dari kitab ajaran umat Hindu, yang melambangkan dari para dewa di alam semesta memberikan kedamaian lahir dan batin umat di dunia ini," ucapnya.



Sumber: ANTARA