Bahasa Indonesia Berpotensi Jadi Bahasa Pengantar di Asia Tenggara

Bahasa Indonesia Berpotensi Jadi Bahasa Pengantar di Asia Tenggara
Ilustrasi buku pelajaran bahasa Indonesia. ( Foto: Istimewa )
Maria Fatima Bona / IDS Jumat, 21 Februari 2020 | 20:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim mengatakan, Kemdikbud akan terus meningkatkan penggunaan Bahasa Indonesia. Sebab, ia ingin agar bahasa Indonesia tidak hanya digunakan di Indonesia saja tetapi juga di manca negara, bahkan menjadi bahasa pengantar atau lingua franca di Asia Tenggara.

“Enggak tahu apa ini bisa tercapai tapi kita harus punya mimpi yang besar. Ini bagian dari ofensif budaya kita di luar negeri,” kata Nadiem pada raker dengan Komisi X DPR RI, Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Saat ditemui dalam Taklimat Media Hari Bahasa Ibu Internasional 2020 di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Jumat (21/2/2020), Pelaksana Tugas (Plt) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, Dadang Sunendar mengatakan, semangat Mendikbud untuk mengangkat bahasa Indonesia ke kancah internasional sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009.

Ia menyebutkan, bahasa Indonesia sangat mungkin menjadi bahasa pengantar di lingkup ASEAN. Pasalnya, bahasa Indonesia sudah memenuhi persyaratan menjadi bahasa pengantar sebuah wilayah.

Secara detail ia menjelaskan beberapa syarat yang dimaksud. Pertama, Bahasa Indonesia memiliki penutur lebih dari 300 juta orang yang tersebar di seluruh dunia. Kedua, Bahasa Indonesia tidak hanya digunakan di satu negara tetapi di beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste, Thailand, serta digunakan oleh para diaspora di seluruh dunia dengan dialek yang berbeda.

Ketiga, Bahasa Indonesia masuk kategori bahasa yang mudah dipelajari oleh orang asing. "Ini artinya bahasa Indonesia akan mampu menjadi bahasa ilmu pengetahuan bagi siapa saja," ujarnya.

Keempat, sebuah bahasa dapat menjadi bahasa internasional jika didukung secara politik, sosial, dan ekonomi. "Saat ini ekonomi Indonesia relatif stabil dan Indonesia sudah masuk 20 besar perekonomian dunia," ujarnya.

Meski begitu, Dadang juga menyebutkan, salah satu kendala menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia adalah sikap sebagian masyarakat Indonesia yang belum menghormati dan bangga menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu, masih banyak masyarakat yang menganggap fungsi bahasa Indonesia hanya sebagai alat komunikasi saja. Padahal, bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa sebagai kebanggaan dan alat pemersatu.

“Bahasa Indonesia ini perekat bangsa dan roh bangsa yang menyatukan kita dari Sabang sampai Merauke, alat komunikasi hubungan pusat dan daerah termasuk untuk bidang budaya. Jadi jangan dianggap sebagai alat komunikasi saja,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com