Polisi Pastikan Isu Penculikan Anak di Kapuas Hulu Hoax

Polisi Pastikan Isu Penculikan Anak di Kapuas Hulu Hoax
Ilustrasi anti-"hoax". ( Foto: Antara )
/ JAS Sabtu, 22 Februari 2020 | 12:59 WIB

Putussibau, Beritasatu.com - Polisi mengimbau warga tidak resah oleh isu penculikan anak yang kini marak di media sosial terutama yang beredar Kapuas Hulu. Polisi menegaskan bahwa isu tersebut adalah berita bohong atau hoax

Isu penculikan anak yang marak beredar di media sosial membuat warga Putussibau dan sekitarnya merasa resah, bahkan isu beredar di media sosial ada salah satu siswa Sekolah Dasar (SD) di Kedamin Putussibau Selatan wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dikabarkan nyaris menjadi korban penculikan.

"Isu itu hoax, tidak ada laporan pengaduan ke polisi, sejumlah warga datang hanya menyampaikan informasi mencurigai seseorang pelaku penculikan anak," kata Kapolres Kapuas Hulu, melalui Kapolsek Putussibau Selatan, Ipda Cahya Purnawan, di Putussibau, Kapuas Hulu Kalimantan Barat, Sabtu (22/2/2020).

Disampaikan Cahya, isu penculikan anak atau pun isu penyamun selalu muncul menjelang pemilu atau pun pilkada, hal tersebut perlu disikapi dengan bijaksana, jangan sampai masyarakat terpancing dan saling mencurigai.

Menurut dia, akibatnya akan fatal apabila timbul keresahan atau saling mencurigai berlebihan, dapat menimbulkan kemarahan mengakibatkan main hakim sendiri.

"Mari sama-sama awasi anak-anak kita. Jika pun ada yang mencurigakan jangan main hakim sendiri," pinta Cahya.

Secara terpisah, Kapolres Kapuas Hulu, AKBP Wedy Mahadi mengimbau kepada seluruh masyarakat Kapuas Hulu untuk bijak dalam menggunakan media sosial, sebelum membagikan (share) informasi sebaiknya cari tahu dulu kebenarannya.

"Jangan mudah terpancing, makanya saring lah informasi sebelum di-sharing," kata Wedy.

Ditegaskan Wedy, masyarakat jangan mau termakan hoax, meski pun demikian para orang tua lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak.

Begitu juga dengan isu penculikan anak, kata Wedy, alangkah lebih baik saling mengingatkan, saling memberikan pemahaman agar masyarakat tidak terjebak hoax.



Sumber: ANTARA