FSGI Desak Pemda Evaluasi Kegiatan Pramuka SMPN 1 Turi

FSGI Desak Pemda Evaluasi Kegiatan Pramuka SMPN 1 Turi
Petugas melakukan pencarian siswa SMPN 1 Turi, Sleman yang hanyut di Sungai Sempor, Sleman, DI Yogyakarta. ( Foto: ANTARA )
Maria Fatima Bona / IDS Minggu, 23 Februari 2020 | 11:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ratusan siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami kejadian tragis diseret arus saat melakukan kegiatan Pramuka susur sungai Sempor pada Jumat (21/2/2020).

Menyikapi kejadian tersebut, Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim mengatakan, pemerintah daerah (Pemda) harus mengevaluasi kegiatan Pramuka yang dilakukan SMPN 1 Turi.

"Pemda harus mengevaluasi seluruh kegiatan Pramuka. Ini dilakukan agar para orangtua tidak khawatir atau pun cemas terhadap kegiatan Pramuka di tiap sekolah. Sebab, tiap sekolah di jenjang SD, SMP, SMA, SMK, dan lainnya memiliki kegiatan wajib Pramuka di sekolahnya masing-masing. Kami juga meminta agar SMPN 1 Turi menghentikan kegiatan Pramukanya," kata Satriawan kepada SP, Minggu (23/2).

Satriawan menambahkan, Dinas Pendidikan di daerah harus memastikan bahwa seluruh kegiatan sekolah di wilayahnya masing-masing berjalan aman dan terkontrol. Khusus untuk kejadian di SMPN 1 Turi, kepala sekolah dan pembina Pramuka harus bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

"Semestinya sebagai ekskul wajib, Pramuka dalam kurikulum 2013 adalah wadah kegiatan yang kreatif, nyaman, menyenangkan, dan aman. Bukan sebaliknya. Kegiatan Pramuka di sekolah harus dievaluasi," ujarnya.

Selain bantuan kepada korban, Satriawan mengatakan, Pemda wajib memberikan pendampingan psikolog dan atau psikiater kepada setiap siswa.

Sekolah wajib mengevaluasi kembali sistem operasional prosedur (SOP) semua kegiatan sekolah agar kejadian yang membahayakan siswa atau guru tak lagi terulang.

"Guru-guru sudah seharusnya mendampingi tiap kegiatan siswa di lapangan sampai tuntas. Jangan lepas tangan. Begitu pula dengan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, jangan hanya pasif dan menerima laporan saja," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga siswa SMPN 1 Turi yang menjadi korban jiwa dalam insiden di sungai Sempor.

Nadiem menyebutkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah bekerja sama dengan pemerintah daerah serta pihak-pihak terkait untuk memastikan evakuasi dan penanganan para korban menjadi prioritas.

"Saya menyampaikan belasungkawa dari lubuk hati yang paling dalam atas tragedi ini. Semoga orang tua serta keluarga siswa yang menjadi korban jiwa dapat diberi kekuatan menghadapi cobaan ini," ujar Nadiem di Jakarta, Sabtu (22/2/2020).

Berdasarkan rilis diterima SP, Minggu (23/2/2020), Nadiem juga akan menugaskan tim Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Ditjen PAUD Dasmen) bersama tim dari Inspektorat Jenderal untuk segera melakukan investigasi di lapangan.

Nadiem menyebutkan, Kemdikbud melalui Sekretaris Jenderal (Sekjen) bersama para pejabat Kemdikbud lain telah ditugaskan ke lokasi untuk meninjau dan memberikan arahan penanganan secara langsung.

"Kami bersama pemerintah setempat dan pihak berwajib terjun langsung ke lapangan untuk menelusuri apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi," ungkap Mendikbud.

Insiden yang terjadi pada Jumat (21/2) ini, menurut Nadiem, dapat menjadi contoh bagi setiap sekolah untuk terus berhati-hati dan waspada dalam melaksanakan aktivitas di luar sekolah.

“Sekolah mesti benar-benar memastikan semua kegiatan di bawah pembinaan sekolah agar dapat mengutamakan keamanan dan keselamatan siswa. Itu yang terpenting. Jadi harus dipertimbangkan secara matang," tegasnya.



Sumber: BeritaSatu.com