Menhub Optimistis Proyek Kereta Cepat Rampung Akhir 2021

Menhub Optimistis Proyek Kereta Cepat Rampung Akhir 2021
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau dua titik pengerjaan proyek Kereta Cepat di Purwakarta dan Rancaekek, Bandung, 23 Februari 2020. ( Foto: Beritasatu Photo / Dok. Kemhub )
Herman / FER Minggu, 23 Februari 2020 | 16:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi optimistis proyek pembangunan Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung dapat diselesaikan pada akhir 2021.

Baca Juga: Menhub Targetkan Groundbreaking Bandara Kediri April 2020

Saat ini, progres pengerjaan proyek tersebut sudah mencapai 44 persen. Sedangkan untuk pembebasan lahan sendiri sudah mencapai 99,96 persen.

"Kita tetap fokus menyelesaikan ini, 2021 akhir sudah beroperasi. Jadi saya tadi bicara dengan tim PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) tidak masalah, kita bisa optimalkan," kata Budi Karya Sumadi dalam keterangan resminya yang diterima Beritasatu.com, Minggu (23/2).

Saat meninjau dua titik pengerjaan proyek kereta cepat di Purwakarta dan Rancaekek, Bandung, Menhub berpesan kepada KCIC sebagai pelaksana proyek agar pekerjaan ini dapat diselesaikan tepat waktu.

"Satu, harus on time. Yang kedua, mesti ada alih teknologi, dan ketiga adalah jaga hubungan dengan masyarakat banyak dan teamwork harus diperhatikan," ujar Menhub.

Baca Juga: Menhub Tegaskan Corona Tak Ganggu Proyek Kereta Cepat

Terkait dengan wabah virus Covid-19 atau virus korona yang khususnya melanda daratan Tiongkok, Menhub sudah berkoordinasi dengan KCIC dan memastikan bahwa proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tetap berjalan sesuai rencana dengan memanfaatkan tenaga kerja lokal.

Menhub mengapresiasi KCIC yang juga telah menjaga hubungan baik dengan masyarakat lokal dengan menempatkan sejumlah titik rumah pekerja dengan masyarakat lokal. Menhub berharap dengan begitu hal ini juga akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.

"Saya bangga dan senang ada suatu proyek kereta cepat pertama kali di Indonesia, ini dikerjakan (dengan skema pembiayaan) business to business jadi artinya swasta Indonesia dengan swasta Tiongkok. Ini merupakan proyek strategis yang kita inginkan karena tidak membebani APBN. Bayangkan ada Rp 83 triliun yang masuk Indonesia dari swasta dalam proyek ini," ucap Menhub.



Sumber: BeritaSatu.com