Guru Keluhkan Banyak Pelatihan Tidak Sesuai Kebutuhan

Guru Keluhkan Banyak Pelatihan Tidak Sesuai Kebutuhan
Ilustrasi guru mengajar. ( Foto: ANTARA FOTO )
Maria Fatima Bona / IDS Senin, 24 Februari 2020 | 20:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) setiap tahunnya selalu mengalokasikan anggaran untuk pelatihan dan pengembangan kompetensi guru. Namun ternyata kegiatan yang telah dilakukan selama ini tidak semuanya memberi dampak bagi guru.

Hal ini disampaikan oleh Usman Djabbar, guru dari SMP Negeri 3 Bissapu Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel). Menurut dia, berbagai pelatihan di berbagai tingkatan kadang tidak sesuai dengan kebutuhan guru.

Menurut Usman, pemerintah seharusnya menanyakan kepada guru apa yang menjadi kebutuhan guru dan tidak hanya fokus pada empat kompetensi dasar yang wajib dimiliki yakni kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian. Pasalnya, kompetensi yang telah diatur sejak Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen itu hingga kini belum ada perubahan setelah 14 tahun berjalan.

“Dalam empat kompetensi sejak 2005 ini fokusnya ke guru, tetapi ada yang aneh karena selama ini tidak pernah ditanyakan apa kebutuhan guru. Kami hanya jadi objek uji coba,” kata Usman yang ditemui SP di sela-sela Lokakarya Kompetensi Guru dan Kepala Sekolah, dan Pengawas di Hotel Millennium, Jakarta belum lama ini.

Menurut Usman, sesungguhnya yang harus dilakukan pemerintah ialah mengidentifikasi kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi guru. Dengan begitu, pelatihan akan berpihak pada guru, sebagaimana guru berpihak pada kebutuhan siswa di sekolah.

Dia juga menyebutkan, daripada menjadikan guru sebagai kelinci percobaan kebijakan, pemerintah sebaiknya fokus pada berbagai proses manajemen sumber daya manusia (SDM) seperti rekrutmen, seleksi, pelatihan, dan pengembangan karier yang sesuai dengan kebutuhan. Pasalnya, sejumlah pelatihan yang diadakan pemerintah ini kebanyakan dihadiri oleh guru yang tidak sesuai dengan kompetensinya. Misalnya pada pelatihan kurikulum. Karena sekolah hanya memiliki guru bidang konseling (BK), maka sekolah menugaskan guru tersebut.

Sementara itu, guru dari SMP Lazuardi Al-Falah, Depok, Jawa Barat, Irma Nurul menuturkan, perlu adanya perubahan dalam empat kompetensi guru karena peserta didik tidak hanya menjadi objek pembelajaran melainkan subjek yang diperhatikan kebutuhannya. Bahkan lebih dari itu, peserta didik menjadi penentu arah metode pembelajaran yang diambil sekolah.

“Orientasinya bersumber pada kebutuhan siswa, apakah sekarang programnya sudah sesuai dengan kebutuhan siswa di masa yang akan datang? Kita sering menyalahkan siswa jelek ketika ujian, padahal kita sendiri belum tahu apa yang dibutuhkan siswa,” ujarnya.

Menurut Irma, guru, kepala sekolah, dan pengawas idealnya tidak hanya fokus pada upaya untuk mencapai standarisasi tertentu, tetapi harusnya lebih memahami karakteristik siswa dan mampu menjalankan metode yang tepat untuk mengantarkan mereka mencapai tujuan pembelajaran.

“Misalnya jika guru punya siswa yang konsentrasinya rendah maka semua metode dan program di kelas tersebut harus diarahkan untuk mendukung peningkatan potensi peserta didiknya,” jelasnya.

Guru SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo Jawa Timur, Enik Chairul Umah mengatakan, agar perubahan terjadi lebih cepat, kolaborasi pemerintah pusat dan daerah perlu dioptimalkan.

“Penerjemahan kebijakan pusat di tingkat daerah tidak selalu bisa dipahami dengan baik meskipun sosialisasi sudah banyak dilakukan. Hal ini terutama dirasakan oleh sekolah swasta. Yang perlu dikedepankan adalah semangat menciptakan sekolah yang berkualitas baik secara merata,” ujar dia.

Diukur
Merespons hal tersebut, Plt. Direktur Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemdikbud, Santi Ambarukmi mengatakan, keluhan yang disampaikan oleh guru dan kepala sekolah akan diterjemahkan Kemdikbud dalam bentuk pengembangan kompetensi yang dibutuhkan.

Santi mengakui, kompetensi yang disepakati sejak Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Guru tersebut sebetulnya memiliki target yang sangat tinggi. Permendiknas tersebut bertujuan agar guru dapat menguasai empat kompetensi dan tidak diimbangi dengan standar sehingga menjadi abstrak bagi guru.

“Seperti kompetensi semua guru harus menguasai teknologi informasi, atau pada kompetensi pedagogik yang mengharuskan guru harus memahami peserta didik. Nah, memahami yang seperti apa itu tidak dijabarkan. Apakah dia memahami peserta didiknya dalam lingkup yang kecil, atau bagaimana. Nanti akan direvisi lagi sehingga bisa dipraktikkan dan bisa diukur,” ujar Santi.

Santi menyebutkan, perubahan dan revisi yang kompetensi guru ini betujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu, pembaruan kompetensi guru ini diperlukan untuk menjawab tantangan terhadap kualitas pendidikan yang terus berkembang di tingkat regional maupun global.

Oleh sebab itu, dalam mencapai pembaruan kompetensi, pemerintah melakukan sejumlah lokakarya yang melibatkan guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk berdialog dan berbagi praktik baiknya.

“Pembaruan kompetensi ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari empat kompetensi yang sudah ada yang disusun secara berjenjang dan bertahap supaya lebih mudah dipahami oleh guru,” ucapnya.



Sumber: BeritaSatu.com