2 Pahlawan Penyelamat Siswa SMPN 1 Turi Raih Penghargaan

2 Pahlawan Penyelamat Siswa SMPN 1 Turi Raih Penghargaan
Dua warga Sleman, Darwanto (37) alias Kodir, dan Mbah Sudiro (71), mendapat penghargaan dari Kementerian Sosial karena telah menyelamatkan banyak siswa dalam tragedi susur sungai, Selasa (25/02/2020) ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / LES Selasa, 25 Februari 2020 | 19:48 WIB

Sleman, Beritasatu.com - Dua warga Sleman yang menjadi sorotan publik saat terjadi tragedi sisir Sungai Sempor Turi Sleman, DIY, Darwanto (37) alias Kodir dan Mbah Sudiro (71) mendapat perhatian dari pihak Kementerian Sosial (Kemsos). Keduanya diganjar penghargaan karena melakukan aksi penyelamatan siswa-siswi SMPN 1 Turi yang hanyut di sungai, pada Selasa (25/2/2020).

Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kemsos Rachmat Koesnadi menyerahkan penghargaan itu kepada Darwanto dan Mbah Sudiro yang disaksikan Bupati Sleman, Sri Purnomo dan Dinsos DIY. Penghargaan diberikan sebagai bentuk penghormatan, dan apresiasi atas keberanian Kodir dan Mbah Sudiro. Keduanya pun mendapat uang penghormatan senilai Rp 10 juta, dan sebelumnya Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun ikut memberikan uang penghargaan kepada keduanya.

Rachmat Koesnadi menyatakan, Kemsos juga mengapresiasi sebesar-besarnya seluruh relawan yang terlibat dalam penyelamatan serta proses evakuasi pada kejadian susur sungai Sempor. Menurutnya, naluri kemanusiaan Kodir dan mbah Sudiro, adalah modal terbesar dalam segala aspek sosial dan kemanusiaan.

Sudarwanto alias Kodir, adalah warga Dusun Kembangarum, Desa Donokerto, Kecamatan Turi. Kesehariannya berprofesi sebagai petani yang hobi mancing di sungai Sempor sejak kecil. Pada hari itu, Jumat (21/2/2020), dia bersama sang adik Tri Nugroho, berencana akan memancing di Sungai Sempor.

Sekitar pukul 15.00 WIB dia baru menuju lokasi. Namun dari jarak yang agak jauh, dia mendengar banyak orang berteriak minta tolong. Tanpa berpikirulang, Kodir lari sekencang-kencangnya dan melihat ratusan siswa berbaju coklat, hanyut di aliaran sungai. Maka dari posisi tebing, Kodir melompat langsung ke bibir sungai dan menceburkan diri ke arus untuk mengangkat siswa-siswa yang sudah tampak lemas.

Adiknya Tri Nugroho ikut membantu mengangkat anak-anak yang sudah bisa menjangkau pingir sungai. Bersamaan dengan itu, Mbah Diro, yang berprofesi sebagai juru kunci makam yang lokasinya tak jauh dari sungai pun melakukan hal yang sama. Tidak peduli pada umurnya yang sudah menyentuh 71 tahun, mbah ini pun ikut ‘nyemplung’ ke sungai tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri, untuk menolong anak-anak yang sebagian besar sudah mulai pasrah pada arus sungai yang kencang.

Kodir mengaku, sudah sangat hapal dengan kondisi sungai, karena sudah akrab sejak kecil. Menurutnya, banyak siswa yang berpegangan pada batu-batu di tengah sungai, menjerit-jerit minta tolong dan ada beberapa siswa di pinggir sungai yang sudah terlihat lemas. Saat kejadian, arus sungai cukup memang deras dan hujan. Kodir menyebutkan, kedalaman sungai di lokasi sekitar 1 meter sampai 1,5 meter, namun karena derasnya arus, banyak anak yang tidak kuat.

Puluhan siswa diangkatnya ke daratan dan sekitar lima kali, Kodir berpindah-pindah, atau sesuai lokasi anak-anak tersebut. Setelah mengevakusi siswa di selatan, Kodir beralih ke bagian utara. "Saya tidak menghitung pokoknya menolong, 10 anak lebih, juga dibantu warga lain," ujarnya.

Sedih
Kodir yang sehari-hari sebagai petani ini mengaku spontan, tidak berfikir untuk dirinya sendiri dan karena sudah memahani titik-titik bahaya di sungai Sempor, dia tidak kesulitan masuk sungai dan mengangkat anak-anak. Proses penyelamatan itu dilakukan Kodir hingga pukul 17.30 WIB, menyusuri terus hingga ke titik utara. Namun dia mengaku sedih, karena masih saja ada anak yang tidak terselamatkan.

Begitu juga dengan mbah Diro, ikut terjun ke Sungai Sempor untuk menolong siswa SMPN 1 Turi.
Saat kejadian, mbah Diro sedang membersihkan makam. Namun tiba-tiba mendengar teriakan-teriakan minta tolong dari arah sungai.

"Saya sedang membersihkan makam. Saya sudah mau memperingatkan supaya naik saja karena cuaca tidak mendukung. Lalu sudah dengar anak-anak minta tolong. Anak saya langsung menghampiri,katanya anak-anak kintir (terbawa arus),”katanya.

Mbah Diro berusaha membantu sebisanya. Merangkul anak-anak yang hanyut ke tepi sungai. Bahkan ia menggendong anak-anak yang mulai tak berdaya dan ketakutan. Mbah Diro, bahkan sempat ikut hanyut karena tidak kuat menahan arus sambil menggendong seorang siswi. Tapi, untuk ada batu untuknya berpijak dan berpegangan pada tangga panjang yang dibawanya.

"Saya sempat hanyut, ada anak masih di punggung saya. Saya bisa pegangan, tetapi karena batu licin, jadi terpeleset, kaki saya luka," ujarnya.

Keduanya, telah menyelamatkan hampir 30 anak tanpa memikirkan diri sendiri, sehingga wajar jika keduanya dianggap sebagai sosok pahlawan dalam tragedi sisir sungai ini.



Sumber: BeritaSatu.com