Menristek Minta Riset Biodiversitas Jadi Unggulan

Menristek Minta Riset Biodiversitas Jadi Unggulan
Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi RI Bambang Brodjonegoro saat penyelenggaraan ceremony Apple Graduation, di BSD City, Tangerang, Kamis (14/1/2020). Sekolah coding ini membekali para siswanya dengan tiga kemampuan utama yakni teknikal, bisnis dan desain. ( Foto: beritasatu photo / mohammad defrizal )
Ari Supriyanti Rikin / FER Rabu, 26 Februari 2020 | 16:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Riset Teknologi (Menristek), Bambang Soemantri Brodjonegoro, mendorong riset keanekaragaman hayati (biodiversitas) diperkuat agar Indonesia bisa mandiri dalam pengembangan bahan baku obat dan alat kesehatan.

Baca Juga: Industri Berdaya Saing Harus Terlibat Riset

Bambang meminta dalam riset dan pengembangan di bidang kesehatan seperti obat dan alat kesehatan (alkes) melibatkan tenaga medis seperti dokter spesialis sehingga riset yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan mereka.

"Dalam riset dan pengembangan alat kesehatan perlu libatkan dokter sehingga tidak ada kesenjangan di sisi industri dan dokter sebagai pemakai. Kita ingin produk kesehatan jadi unggulan kita. Apalagi impor alkes dan obat kita masih dominan hampir 90 persen," katanya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Sinergi triple helix (lembaga penelitian/pemerintah), akademisi dan industri) di bidang kesehatan ini diharapkan menjadikan Indonesia menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Bahkan dari riset obat atau alkes, bisa ditemukan riset lain yang terkait sehingga tidak sekadar riset untuk tindakan kuratif tetapi juga preventif.

Riset juga harus menjurus pada masalah penyakit tertentu yang paling diderita masyarakat miskin, menimbulkan kematian terbanyak atau bahkan obat untuk penyakit itu tergolong mahal.

Baca Juga: Wapres Dukung Kemitraan BPPT dengan Industri

Bambang mencontohkan, penyakit diabetes karena banyak makan nasi. Dari situ akan lahir riset pangan menghasilkan beras dengan kadar gula rendah.

Berkembangnya potensi penyakit pun karena virus juga semakin meningkat seperti virus korona (Covid-19). Ada perkiraan dari Eijkman bahwa curcumin bahan utama di dalam kunyit sebagai salah satu tumbuhan Indonesia bisa untuk pencegahan virus tersebut.

"Tapi perlu pengujian lebih panjang, begitu kita lihat sesuatu coba cari solusinya. Riset harus memberi solusi jawaban terhadap masalah yang kita hadapi," ucap Bambang.

Selain itu, ada pula yang menyebut masa depan obat di dunia nantinya berasal dari lautan. Otomatis eksplorasi harus dilakukan sehingga Indonesia bisa menggali potensi biodiversitasnya di laut.

"Obat modern asli Indonesia harus menjadi bagian dari ambisi kita untuk mengurangi ketergantungan terhadap obat impor," tegas Bambang.



Sumber: BeritaSatu.com