Bappenas: Investasi di Ibu Kota Baru Melalui Badan Otorita

Bappenas: Investasi di Ibu Kota Baru Melalui Badan Otorita
Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (26/2/2020). ( Foto: Beritasatu Photo / Lenny Tristia Tambun )
Lenny Tristia Tambun / FER Rabu, 26 Februari 2020 | 21:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Suharso Monoarfa, mengatakan investasi di Ibu Kota baru tidak perlu melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

"Betul. Tidak perlu (melalui BKPM). Kita menginginkan kedepan, di Ibu Kota baru ini pemerintahannya khusus, yang penyelenggaraan pemerintahannya dilakukan sebuah badan otorita, namanya Badan Otorita Ibu Kota Negara (BOI),” kata Suharso Monoarfa seusai rapat terbatas (Ratas) dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Pemerintah Sediakan 3 Juta Lapangan Kerja di Ibu Kota Baru

Karena, semua proses investasi akan diproses melalui satu pintu saja, yakni oleh Badan Otorita Ibu Kota Negara. Pemerintah akan memberikan kewenangan seluas-luasnya kepada Badan Otorita Ibu Kota Negara untuk mengurus perizinan investasi di Ibu Kota baru, Penajam Passer Utara dan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

"Proses investasinya nanti one stop service di tangan BOI. Dia diberikan kewenangan seluas-luasnya, diluar enam kewenangan mutlak milik pemerintah pusat,” ujar Suharso Monoarfa.

Sampai sejauh ini, sudah ada beberapa investor, baik dalam dan luar negeri yang menyatakan tertarik untuk menanamkan modalnya di Ibu Kota baru. Diantaranya, Korea Selatan, Jepang, Spanyol, Amerika Serikat (AS) dan Jerman.

Namun, pemerintah Indonesia belum membuat kesepakatan apa pun dengan para calon investor ini. Dikarenakan pemerintah masih memetakan proyek dan skema pembiayaan yang bisa ditawarkan ke para calon investor.

Soft Groundbreaking Ibu Kota Baru Dilakukan Tahun Ini

"Kita akan membuatnya dalam bentuk klaster-klaster dan menawarkan kepada investor, mau di klaster yang seperti apa. Dan mereka akan memperhitungkan dari sisi kemapanan dari investasi itu,” terang Suharso Monoarfa.

Pastinya, lanjut Suharso Monoarfa, investasi yang menarik adalah investasi yang mampu memenuhi internal rate of return (IRR) yang diharapkan dan sesuai dengan ekspektasi investor.

"Silakan, jadi kami terbuka. Kesempatan ini terbuka kepada siapa saja. Malah kalau bisa diwakili oleh bangsa-bangsa di dunia. Ada footprint-nya di Ibu Kota Negara ini. Misalnya, di Negara A bisa menunjukkan kemampuannya di bidang transportasi publik, ada yang menyediakan air bersih, lalu listrik yang hemat, murah dan ramah lingkungan," kata Suharso Monoarfa.



Sumber: BeritaSatu.com