Ini Perkembangan Master Plan Penanganan Banjir dari Kempupera

Ini Perkembangan Master Plan Penanganan Banjir dari Kempupera
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) Basuki Hadimuljono dalam Rapat Kerja Penanganan Banjir Jabodetabek bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Rabu (26/2/2020). ( Foto: Ist )
Muawwan Daelami / FMB Kamis, 27 Februari 2020 | 10:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) Basuki Hadimuljono menyatakan penanganan banjir di Indonesia. termasuk di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), harus dilakukan secara terintegrasi berdasarkan satuan wilayah sungai tanpa dibatasi wilayah administratif sehingga diperlukan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Upaya penanganan banjir di Indonesia itu pendekatannya bukan batasan administratif, tapi batasan wilayah sungai. Jabodetabek terdiri dari wilayah Sungai Ciliwung, kemudian sebagian wilayah Sungai Cisadane, dan Sungai Citarum," kata Basuki dalam Rapat Kerja Penanganan Banjir Jabodetabek bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Sementara penanganan Sungai Ciliwung, menurut Basuki sudah ada master plan-nya sejak tahun 1973 kemudian ditinjau ulang pada 1997 dan terakhir pada 2007. Dia pun berharap, dengan mengerjakan master plan tersebut banjir di wilayah Jakarta dapat teratasi.

Basuki menambahkan, Masterplan Pengendalian Banjir Jakarta memuat pembangunan Kanal Banjir Timur (KBT), Sudetan (floodway) dan bendungan kering di hulu Sungai Ciliwung. Di hulu Ciliwung dia juga sedang bangun Bendungan Sukamahi dan Ciawi, nanti di tengah di Bidara Cina terdapat Sudetan yang mengalirkan debit air dari Kali Ciliwung ke KBT untuk mengurangi beban aliran di Pintu Air Manggarai.

Dari master plan tersebut, dia menyampaikan bahwa Kempupera telah menyelesaikan pekerjaan peningkatan kapasitas sungai melalui pelebaran dan pengerukan Sungai Ciliwung sepanjang 16 km dari rencana keseluruhan 33 km.

Peningkatan kapasitas sungai juga dilakukan di Kali Angke Hulu dengan realisasi sepanjang 30,4 km dari rencana 42,8 km. Lalu di Kali Pesanggrahan dengan realisasi sepanjang 21,7 km dari rencana 42,8 km, dan di Kali Sunter dengan realisasi sepanjang 28,6 km dari rencana 35,7 km.

Sementara bagi relokasi masyarakat yang terkena pembebasan lahan di alur sungai, Kempupera telah menyiapkan 800 unit hunian di Rusunawa Pasar Rumput.

Selain itu juga mendorong percepatan kelanjutan pembangunan Sudetan Ciliwung yang berbentuk terowongan bawah tanah untuk mengurangi debit air sepanjang 600 meter dari keseluruhan 1200 meter.

Sudetan Ciliwung nantinya berfungsi untuk mengurangi debit air sebesar 60 meter kubik (m3)/detik saat Sungai Ciliwung berada pada kondisi puncaknya dengan debit 500m3/detik. Perbaikan penetapan lokasi (penlok) telah disampaikan dari Kementerian PUPR cq Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung – Cisadane Ditjen Sumber Daya Air ke Gubernur DKI Jakarta pada 26 Desember 2019.

“Wilayah outletnya sepanjang 600 meter hingga Kali Cipinang menuju KBT di Kebun Nanas sudah rampung pembangunannya, tinggal wilayah inletnya dari Sungai Ciliwung. Pembebasan lahannya membutuhkan 8.054 m2, di mana 3.758 m2 milik Pemprov DKI dan sisa lahannya milik masyarakat. Saat ini tinggal menunggu penlok dari Gubernur DKI Jakarta selanjutnya pembebasan lahan dan jika lahan sudah bebas, ditargetkan konstruksi dapat rampung dalam 6 bulan,” terang Basuki dalam pernyataan resminya.

Sedangkan untuk pengendalian banjir Kota Bekasi dan sebagian Kabupaten Bekasi, Basuki menambahkan sudah membuat Perencanaan Pengendalian Banjir Kali Bekasi. Tahun ini akan dilakukan value engineering terhadap perencanaan tersebut dan segera ditindaklanjuti dengan pekerjaan fisik konstruksinya.

“Direncanakan secara bertahap dimulai pada September 2020 untuk penanganan kali Bekasi dari hulu di Gunung Pancar dan Gunung Geulis sampai ke hilirnya di Cikarang Bekasi Laut (CBL),” ujarnya.

Hadir mendampingi Menteri Basuki, Plt Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air Kementerian PUPR Widiarto, Dirjen Bina Marga Sugiyartanto, Direktur Sungai dan Pantai Ditjen Sumber Daya Air Jarot Widyoko, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane Bambang Hidayah, Kepala BBWS citarum Bob Arthur Lombogia, Kepala, BBWS Cidanau Ciujung Cidurian Tris Raditian, Direktur Pengembangan Jaringan SDA Edy Juharsyah, dan Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja. 



Sumber: BeritaSatu.com