Mbah Ganden Tolak Sewakan Alat Berat untuk Proyek Tambang

Mbah Ganden Tolak Sewakan Alat Berat untuk Proyek Tambang
Stefanus Yulianto ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Kamis, 27 Februari 2020 | 21:05 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Ada begitu banyak perusahaan atau tempat persewaan alat berat di Yogyakarta yang bisa disewa siapa saja. Entah disewakan untuk perorangan, perusahaan, atau pemerintah.

Salah satunya adalah pria bernama Stefanus Yulianto atau akrab disapa Mbah Ganden. Namun, Mbah Ganden memiliki pertimbangan sendiri saat membuka jasa persewaan alat berat. Tak seperti tempat persewaan lain di Yogyakarta, yang menyewakan alat kepada pemberi proyek bernilai fantastis, sepeti area tambang, Mbah Ganden menolak persewaan alat berat khusus digunakan untuk tambang.

“Kalau untuk tambang, saya kurang minat. Kalau menyewakan bukan tambang, tetapi proyek-proyek pemerintah dan swasta atau perorangan yang ingin sawahnya diperlebar, membuat fondasi rumah, atau gorong-gorong. Cuma itu saja. Kalau untuk tambang, saya kurang (minat),” ujar Mbah Ganden, Selasa (25/2/2020).

Dia sudah tiga tahun membuka jasa penyewaan alat berat bagi per orangan, swasta, dan proyek pemerintah. Proyek-proyek tersebut sebetulnya jika ditelisik dari segi harga peminjam kurang begitu besar, jauh di bawah harga sewa proyek tambang.

Mbah Ganden lebih memilih usaha yang adem ayem, meski penghasilannya tidak besar. “Saya ingin usaha yang tidak bersinggungan dan bisa memicu konflik dengan banyak orang. Saya kerja itu sebagai buruh pacul. Mereka minta tolong bantuan memacul sawah mereka, ya, saya paculkan,” katanya.

Mbah Ganden menceritakan, semula usahanya adalah menyewakan alat untuk sejumlah acara dan telah berjalan sekitar 25 tahun. Kemudian, usahanya pun merambah hingga persewaan alat berat untuk proyek. Hingga kini dia menyediakan sejumlah alat berat, seperti lima alat ukuran 78, Caterpillar 305, hingga alat proyek lain.

Usahanya kini terbilang lancar. Ada begitu banyak proyek dan rata-rata di area Yogyakarta dan Klaten yang sudah menggunakan jasa persewaan alatnya. Yang paling banyak menyewa adalah proyek pemerintah, mulai dari pembangunan gorong-gorong, talud, dan lainnya.

Dijelaskan, ada dua paket persewaan yang ditawarkan. “Paket pertama adalah peminjaman secara kosongan atau hanya alat berat saja. Kedua adalah all in, ini termasuk solar dan operator,” ujarnya.

Dari bisnisnya saat ini, Mbah Ganden mengaku rata-rata mendapatkan omset sekitar Rp 25 juta per bulan. Dia juga tidak mempromosikan secara khusus penyewaannya itu dan orang-orang hanya tahu dari mulut ke mulut.

“Biasanya orang-orang menyewa alatnya tahu dari mulut ke mulut, dari rekomendasi teman, dan juga ada yang langsung menghubungi ke nomor telepon saya,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com