Tiga Bocah Makan Sabun Cuci karena Kelaparan

Tiga Bocah Makan Sabun Cuci karena Kelaparan
Ilustrasi kelaparan di Afrika.
Arnold H Sianturi / JEM Jumat, 28 Februari 2020 | 09:52 WIB

Tapsel, Beritasatu.com - Tiga bocah kakak beradik yang terpaksa memakan sabun cuci karena kelaparan di Desa Muara Tais II, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara (Sumut), ternyata sudah diasuh di Panti Asuhan Amaliyah At Tohiriyah, Kelurahan Huta Tonga, Kecamatan Angkola Muara Tais.

Ketiga bocah yang hidup di tengah kemiskinan, Nofri (10), Juliana (8), dan Andika (4), dititipkan ke panti asuhan itu sesuai kesepakatan pihak keluarga bersama dengan forum komunikasi pimpinan kecamatan (Forkompimcam) dan disaksikan oleh perwakilan masyarakat di Desa Muara Tais.

"Berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan pemerintah kecamatan serta desa, disepakati agar ketiga bocah ini dititip ke panti asuhan. Ini merupakan jalan terbaik sebuah langkah yang positif dan efektif," ujar Camat Angkola Muara Tais, AM Fadhil Harahap, Kamis (27/2/2020).

Fadhil mengatakan, kakak beradik Nofri, Juliana dan Andika, lebih baik dititipkan ke panti asuhan supaya kondisi kesehatannya, konsumsi makan setiap hari maupun lainnya, bisa dengan mudah dipantau. Sehingga, bila ada sesuatu hal yang mendesak, pengurus di panti asuhan cepat memberikan pertolongan.

"Jadi bukan hanya pindah tempat tinggal maupun soal pengasuhan, sekolah Nofri dan Juliana juga dipindahkan. Sebelumnya, mereka sekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Muara Tais II, kemudian dipindahkan ke SDN Huta Tonga, yang lokasinya tidak jauh dari Panti Asuhan," kata Fadhil.

Menurutnya, ketiga kakak beradik ini sudah menjalani perawatan di Puskemas Muara Tais. Kondisi kesehatannya diperiksa setelah pihak pemerintah kabupaten melalui kecamatan, mendengar kabar ketiga bocah ini mengonsumsi sabun cuci setiap harinya. Merekan makan sabun karena kelaparan.

"Saat berada di puskesmas, ketiga bocah ini diberikan asupan makanan yang bergizi dan minum susu. Orang yang pertama makan sabun adalah Nofri yang kemudian diikuti oleh kedua orang adiknya. Nofri sudah tahunan makan sabun. Dia juga bekerja mencuci pakaian tetangga selain kedua adiknya," katanya.

Jauh hari sebelum kesulitan ini terungkap, ketiga bocah malang itu tinggal bersama neneknya, Soriani Batubara. Nenek berusia 80 tahun itu adalah ibu kandung dari ayah Nofri, Juliandi dan Andika, bernama Rosul (45). Dia bekerja serabutan dan dinilai kurang memberikan perhatian terhadap anak - anaknya.

Sementara itu, Rosul bersama istrinya sudah bercerai. Ibu kandung ketiga bocah itu sudah menikah dengan pria lain, beberapa tahun sebelumnya. Sejak perceraian orangtuanya, Nofri, Juliandi dan Andika, hidup tanpa mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya. Bahkan, makan mereka serba kekurangan.

Menurut Soriani, ada beberapa warga yang terkadang datang memberikan bantuan. Namun, bantuan yang diberikan itu tidak dapat memenuhi kebutuhan dia bersama ketiga cucunya untuk satu bulan. Oleh karena itu, Nofri pun mencuci pakaian tetangga dengan upah sekedarnya. Pekerjaan itu untuk memenuhi kebutuhan adiknya.

"Sebelumnya, saya memang tidak mengetahui kalau ketiga cucu ini memakan sabun. Saya justru mengetahuinya belakangan ini. Saya memang tidak bisa berbuat banyak, apalagi memang cucu saya Nofri yang bekerja mencari nafkaf. Saya tidak bisa bekerja lagi karena sudah sangat tua. Tidak ada tenaga," ungkapnya.

Soriani mengharapkan, pemerintah memberikan bantuan, sebab sebelumnya keluarganya tidak pernah mendapatkan bantuan program keluarga harapan (PKH), kartu sehat, beras raskin, bahkan program bantuan sekolah buat cucu-cucunya.

Menurut pengakuan warga sekitar, ketiga bocah malang ini sudah lama memakan sabun. Bahkan, warga sering melihat ketiganya melakukan itu setiap mencuci pakaian di sungai. Nofri membawa kedua adiknya saat mencuci pakaian. Saat itu, ketiganya makan sabun.

"Setiap lapar langsung makan sabun. Warga sini sudah meminta Nofri supaya melarang kedua adiknya tidak makan sabun. Namun, mereka bertiga seperti tidak mengindahkan hal tersebut. Memakan sabun sepertinya sudah menjadi kebiasaan. Mungkin itu dilakukan untuk menghilangkan rasa lapar," sebut warga.   



Sumber: BeritaSatu.com