Wahyu Setiawan Diduga Minta Ketua KPU Bahas PAW Caleg PDIP Harun Masiku

Wahyu Setiawan Diduga Minta Ketua KPU Bahas PAW Caleg PDIP Harun Masiku
Ketua KPU Arief Budiman tiba di gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan di Jakarta, Selasa (28/1/2020). KPK memeriksa Arief Budiman sebagai saksi dari tersangka mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan dalam kasus dugaan korupsi penetapan pergantian antar waktu anggota DPR periode 2019-2024. (Foto: ANTARA FOTO / Galih Pradipta)
Fana Suparman / WM Jumat, 28 Februari 2020 | 20:16 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) diduga pernah meminta Ketua KPU, Arief Budiman untuk membahas proses pergantian antarwaktu (PAW) caleg PDIP, Harun Masiku. Dugaan ini menjadi salah materi yang didalami penyidik saat memeriksa Arief Budiman sebagai saksi kasus dugaan suap proses PAW Harun Masiku, Jumat (28/2/2020).

Arief diperiksa untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Harun Masiku, Wahyu Setiawan, kader PDIP Saeful Bahri dan mantan anggota Bawaslu yang juga mantan caleg PDIP Agustiani Tio Fridelina.

"Penyidik mendalami keterangan saksi mengenai adanya permintaan oleh tersangka WS (Wahyu Setiawan) kepada saksi (Arief Budiman) untuk membahas mengenai pengusulan PAW dari caleg dari PDIP," kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri, di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (28/2/2020).

Selain itu, tim penyidik juga mencecar Arief mengenai perkenalan dan pertemuannya dengan Harun Masiku. Termasuk juga mengenai proses PAW yang diajukan PDIP ketika itu.

"Kami mendalami kembali pemeriksaan dari saksi Arief Budiman terkait dengan antara lain bagaimana adanya apakah saksi dengan tersangka HAR (Harun Masiku) apakah ada pertemuan dengan tersangka HAR pada saat itu PAW. Kemudian prosesnya seperti apa. Seputar hal-hal teknis PAW yang diajukan DPP PDIP pada saat itu," katanya.

Seusai diperiksa, Arief Budiman mengaku dicecar tim penyidik mengenai hubungan dan pertemuannya dengan Harun Masiku.
Arief mengklaim tak mengenal Harun. Namun, Arief mengakui, Harun pernah menemuinya di Kantor KPU.

"Saya nggak kenal siapa Harun Masiku ya, tapi dia pernah datang ke kantor," kata Arief usai diperiksa penyidik di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (28/2/2020).

Saat itu, kata Arief Harun membawa mengaku pernah bertemu caleg PDIP, Harun Masiku di kantornya. Dalam pertemuan itu, Arief mengatakan, Harun membawa surat uji materi atau judical review terkait peratutan KPU soal penetapan anggota DPR terpilih.

Kepada Harun, Arief mengklaim pihaknya tetap berpegangteguh terhadap peraturan KPU. Dalam hal ini Harun Masiku tak bisa menggantikan anggota DPR terpilih Nazaruddin Kiemas yang meninggal dunia.

"Saya sampaikan ini nggak bisa ditindaklanjuti karena tidak sesuai dengan ketentuan UU Pemilu," katanya.

KPU berpandangan, yang pantas menggantikan Nazaruddin Kiemas adalah Riezky Aprilia sebagai calon legislatif dari PDIP yang meraih suara terbanyak setelah Nazaruddin. Namun PDIP berdasarkan fatwa MA berkeras mengajukan Harun untuk menggantikan Nazaruddin.

Menurut PDIP, sesuai surat uji materi tersebut, MA menyatakan bahwa suara caleg yang meninggal adalah milik partai. Jadi PDIP mengalokasikan suara Nazaruddin Kiemas untuk Harun Masiku dan ditolak KPU.

Saat bertemu Arief, Harun meminta KPU menjalankan fatwa MA. Namun, Arief menekankan KPU telah memutuskan menetapkan Riezky Aprilia sebagai anggota DPR terpilih. Arief menyatakan surat yang dilayangkan PDIP mengenai hal tersebut pun telah direspon oleh KPU.

"Saya sudah sampaikan, kami sudah pernah menjawab surat itu," katanya.

Arief mengklaim tidak ada yang aneh mengenai pertemuannya dengan Harun di Kantor KPU. Dikatakan, setiap orang dapat datang ke KPU untuk berkonsultasi. Arief menegaskan, sebelum dan sesudah pertemuan tersebut, tidak pernah lagi bertemu dengan Harun.

"Kan setiap orang banyak yang datang ke kantor berkonsultasi, ya biasa saja itu. Saya juga nggak berpikir apa-apa waktu itu. Setelah itu ditanya (penyidik) apa ada pertemuan lagi. Ya, saya jawab nggak ada. Sekali itu saja. Dan saya sudah tegaskan memang tidak bisa ditindaklanjuti," katanya.

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan kedua yang dijalani Arief terkait kasus PAW anggota DPR. Pada pemeriksaan sebelumnya, 28 Januari 2020, Arief dicecar sekitar 22 pertanyaan.

Menurut Arief, pemeriksaan kali ini hanya melengkapi pemeriksaan sebelumnya. Arief mengaku terdapat sekitar 10 pertanyaan yang dilontarkan penyidik. Sebagian besar mengenai hubungannya dengan Harun dan Wahyu Setiawan, mantan Komisioner KPU yang juga telah menyandang status tersangka.

"Hari ini 10 pertanyaan. Tetapi lebih mendalami terkait apakah saya punya hubungan antara saya, Wahyu, dan Harun Masiku," katanya.

Diberitakan, KPK menetapkan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan; caleg PDIP, Harun Masiku; mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina dan kader PDIP Saeful Bahri sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait PAW anggota DPR. Wahyu dan Agustiani diduga menerima suap dari Harun dan Saeful dengan total sekitar Rp 900 juta.

Suap itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Tiga dari empat tersangka kasus ini telah mendekam di sel tahanan. Sementara, tersangka Harun Masiku masih buron hingga kini.

Sejak KPK menangkap Wahyu Setiawan selaku Komisioner KPU dan tujuh orang lainnya dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (8/1/2020), Harun seolah 'hilang ditelan bumi'. Ditjen Imigrasi sempat menyebut calon anggota DPR dari PDIP pada Pileg 2019 melalui daerah pemilihan (dapil) Sumatera Selatan I dengan nomor urut 6 itu terbang ke Singapura pada 6 Januari 2020 atau dua hari sebelum KPK melancarkan OTT dan belum kembali.

Pada 16 Januari Menkumham yang juga politikus PDIP, Yasonna H Laoly menyatakan Harun belum kembali ke Indonesia. Padahal, pemberitaan media nasional menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia pada 7 Januari 2020 yang dilengkapi dengan rekaman CCTV di Bandara Soekarno-Hatta.

Bahkan, seorang warga mengaku melihat Setelah ramai pemberitaan mengenai kembalinya Harun ke Indonesia, belakangan Imigrasi meralat informasi dan menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia. Meski dipastikan telah berada di Indonesia, KPK dan kepolisian hingga kini belum berhasil menangkap Harun Masiku yang telah ditetapkan sebagai buronan atau daftar pencarian orang (DPO).



Sumber: BeritaSatu.com