74 Tenaga Kesehatan Dampingi Proses Karantina 188 ABK World Dream

74 Tenaga Kesehatan Dampingi Proses Karantina 188 ABK World Dream
Sejumlah WNI kru kapal World Dream menyantap makanan di KRI dr Soeharso ketika menuju lokasi observasi di Pulau Sebaru Kecil, Kepulauan Seribu, Kamis, 27 Februari 2020. ( Foto: Antara )
Dina Manafe / JAS Sabtu, 29 Februari 2020 | 08:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebanyak 188 anak buah kapal (ABK) World Dream akhirnya tiba di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Jumat (28/2/2020) sekitar pukul 13.00 WIB bersama KRI dr Soeharso. Sebanyak 74 tenaga kesehatan disiagakan di tempat ini untuk mendampingi mereka selama masa karantina/observasi 14 hari ke depan.

Dihubungi Beritasatu.com, Jumat malam, Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemkes), Achmad Yurianto mengatakan, ada sebanyak 34 tenaga kesehatan dari Kemkes dan 40 tenaga kesehatan dari TNI yang disiagakan di Pulau Sebaru untuk mendampingi 188 ABK selama masa observasi.

“Totalnya sekitar 74 tenaga kesehatan yang kita siagakan. Karena setiap hari 188 ABK ini harus dilakukan pengukuran suhu tubuh pagi dan sore,” kata Yurianto.

Para tenaga kesehatan ini terdiri dari empat sub tim. Pertama, tim tenaga kesehatan yang menangani pemantauan kondisi kesehatan 188 ABK tiap hari. Pemantauan kesehatan ini menggunakan pola yang sama dengan saat menangani 238 WNI dari Wuhan yang dikarantina di Natuna, Kepulauan Riau beberapa waktu lalu.

Kedua, ada sub tim kesehatan lingkungan. Tim ini bertanggung jawab terhadap kesehatan lingkungan lokasi karantina, penanganan sampah, pengawasan dapur, dan kualitas bahan makanan. Ketiga, tim surveilans yang tugasnya melakukan pencatatan hasil pengukuran suhu tubuh, pendataan dan pengolahan data.

Data-data ini kemudian dilaporkan ke Kemkes. Dari data-data inilah yang akan jadi evaluasi untuk menentukan kebijakan lebih lanjut. Tim terakhir adalah sub tim layanan medis. Tim ini terdiri dari dokter spesialis paru, spesialis penyakit dalam, dokter umum, dan beberapa perawat.

“Kita ada poliklinik yang kita bangun menjadi ICU mini yang juga diisi oleh petugas kesehatan yang totalnya 74 itu,” kata Yurianto.

Yurianto mengatakan, standar karantina atau observasi terhadap 188 ABK World Dream tidak berbeda dengan WNI yang dikarantina di Pulau Natuna. Ada pemerikaan kesehatan tiap 12 jam sekali, pemenuhan gizi, aktivitas harian dan istirahat yang cukup. Juga ada tim psikolog yang memberikan pendampingan. Selama masa karantina mereka diijinkan menelpon keluarganya.

“Ada juga psikolog, lengkap di sana. Karena kita tidak hanya harus jaga kesehatan fisik mereka tapi juga psikisnya,” kata Yurianto.

Selama masa karantina juga diberlakukan ring 1 dan ring 2. Seluruh pulau Sebaru Kecil ditetapkan sebagai ring 1. Masuk keluar orang ke lokasi ini dibatasi atau hanya mereka yang diijinkan.

Kemudian ring 2 adalah kapal-kapal yang disiagakan di perairan dekat Pulau Sebaru Kecil sebagai kendali administrasi. Semua aktifitas pasokan logistik, seperti bahan makanan, bahan bakar minyak, dan lain lainnya untuk kebutuhan pelayanan di ring 1 dilakukan di ring 2.

“Ring 2 akan kita tempatkan di kapal, belum tentu KRS (Kapal Rumah Sakit) Soeharso bisa saja kapal yang lain. Karena kalau ring 2 sebagai kendali administrasi menggunakan pulau lain terlalu jauh. Ada pulau yang agak dekat, tetapi itu pulau kosong,” kata Yurianto.

Yurianto menegaskan, 188 ABK World Dream ini adalah orang sehat dan sudah dinyatakan negatif Covid-19 setelah dilakukan pemeriksaan oleh otoritas Hong Kong. Selama di atas kapal World Dream tidak ada satu pun yang sakit atau menunjukkan gejala mengarah ke Covid-19.

Namun observasi selama 14 hari harus tetap dilakukan untuk memastikan mereka benar-benar tidak tertular virus dari Wuhan, Tiongkok ini.

“Mereka ini orang sehat, tetapi kita harus yakinkan bahwa semua baik sebelum pulang ke keluarganya. Jangan sampai malah bawa penyakit,” kata Yurianto.



Sumber: BeritaSatu.com