Denny JA: Saatnya Mayoritas Dunia Muslim Memeluk Demokrasi dan HAM

Denny JA: Saatnya Mayoritas Dunia Muslim Memeluk Demokrasi dan HAM
Denny JA ( Foto: Istimewa )
Yuliantino Situmorang / YS Rabu, 4 Maret 2020 | 13:06 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perubahan mendasar dunia akan terjadi jika mayoritas dari 50 negara Muslim hijrah memeluk demokrasi dan kebebasan.

"Indonesia dapat menjadi model, walau harus terus berevolusi menuju demokrasi yang penuh,” ujar konsultan politik Denny JA dalam keterangan tertulisnya yang diterima SP di Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Pandangan itu menjadi kesimpulan buku terbarunya berjudul Jalan Demokrasi dan Kebebasan untuk Dunia Muslim: Indonesia sebagai Model? yang ia luncurkan secara virtual, Rabu (4/3/2020).

Ia menjelaskan, buku itu buah renunganya selama 30 tahun. Dimulai sejak ia menjadi aktivis demokrasi era mahasiswa di tahun 1980-an, mendalami ilmu politik tingkat doktoral di Amerika Serikat pada 2000-an, dan penelitiannya mengamati perkembangan terbaru.

Sejumlah pertanyaan kerap muncul, apakah itu mungkinkah? Mungkinkah mayoritas 50 negara Muslim berbondong-bondong atau berangsur- angsur hijrah memeluk demokrasi dan kebebasan? Bukankah menurut data Democracy Index 2019, dari 50 negara yang mayoritas penduduknya Muslim, 60 persen menerapkan politik otoriter? Mereka yang menerapkan full democracy tak ada sama sekali, alias nol persen?

"Hanya tiga negara Muslim, termasuk Indonesia, yang menerapkan demokrasi setengah matang,"  kata dia.

Menurut Denny, semua itu tidak hanya mungkin, tapi harus terjadi. Ia mungkin karena sistem yang tumbuh di satu negara adalah anak kandung dari dinamika politik, ekonomi, dan budaya.

"Terbanglah lebih tinggi melihat lima ribu tahun peradaban. Apa yang kita lihat? Tak lain dan tak bukan yang nampak hanya satu: Yang tak berubah hanyalah perubahan itu sendiri. Bekerjanya hukum sosial selalu mungkin memaksa lima puluh negara Muslim hijrah memeluk demokrasi dan kebebasan," tambahnya.

Dikatakan, mayoritas 50 negara Muslim harus memeluk demokrasi dan kebebasan. Selalu lahir para pemimpi, pejuang, pahlawan yang inginkan lebih.

Dia menjelaskan, Pew Research Center, lembaga peneliti berpusat di AS menyatakan, tahun 2070 nanti, penduduk Muslim akan menjadi terbanyak di dunia.

Hadirnya negara Muslim yang bebas dan demokratis, atau yang sebaliknya, akan mempengaruhi dunia nyaman atau bergolak. Apalagi saat itu, mulai tahun 2070, Muslim adalah populasi paling banyak.

Demi dunia yang lebih baik, mayoritas 50 negara Muslim harus hijrah memeluk demokrasi dan kebebasan. Yang tersisa kemudian, lanjut dia, adalah kapan dan bagaimana?

Denny mengajak pembaca untuk menyelam dan mengelaborasi “the social origin of democracy and freedom, ” melihat asal usul dan kekuatan sejarah yang melahirkan demokrasi serta kebebasan itu yang menjadi kunci.

Dalam bukunya itu, Denny menulis penuh dengan data dan teori. Ia mengupas sejarah pertumbuhan demokrasi di Eropa, Amerika Serikat, dan belahan dunia lain. Buku ini juga banyak kutipan puitis dari sejumlah tokoh, salah satunya dari Victor Hugo: “Tak ada yang lebih kuat dibandingkan gagasan yang waktunya telah tiba.”

Gagasan demokrasi dan kebebasan telah tiba di dunia Muslim.

Denny menambahkan, buku itu sengaja ia bagikan secara gratis lewat media sosial dalam bentuk pdf.  Ia ingin ikut mewarnai ruang publik agar semakin banyak perdebatan gagasan.



Sumber: PR/Suara Pembaruan