Sesmenpora Mengaku Pernah Diminta Uang Rp 500 Juta oleh Sespri Imam Nahrawi
Logo BeritaSatu

Sesmenpora Mengaku Pernah Diminta Uang Rp 500 Juta oleh Sespri Imam Nahrawi

Rabu, 4 Maret 2020 | 22:53 WIB
Oleh : Fana Suparman / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora), Gatot S Dewa Broto, mengaku pernah dimintai uang hingga Rp 500 juta oleh Nur Rochman alias Komeng selaku Sekretaris Pribadi eks Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.

Pengakuan ini disampaikan Gatot saat dihadirkan sebagai saksi perkara dugaan suap dana hibah KONI dan gratifikasi dengan terdakwa Imam Nahrawi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (4/3/2020).

"Disampaikan saat itu, dia (Komeng) minta, 'Ini sudah akhir tahun di bulan Desember, ada dana yang mungkin sisa di 2014 yang bisa digunakan untuk mem-backup operasional dari Pak Menteri?,' seperti itu," kata Gatot, di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (4/3).

Permintaan uang itu disampaikan Komeng saat saat Gatot masih menjabat sebagai Deputi V Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kempora. Gatot mengaku janggal atas permintaan uang sebanyak Rp500 juta untuk operasional Imam Nahrawi. Apalagi Gatot mengaku tak mempunyai uang sebesar itu.

"Saya menyatakan kalau sampai jumlah disampaikan yaitu Rp500 juta, kami enggak ada uang. Apalagi seorang deputi tidak memegang apapun. Uang itu menempel di pejabat pembuat kepentingan masing-masing asisten deputi," katanya.

Gatot mengaku tak tahu-menahu peruntukan permintaan uang tersebut. Sebab, Komeng tak menjelaskan lebih detail penggunaan uang tersebut.

"Enggak disebutkan (Komeng)," katanya.

Meski demikian, Komeng kembali meminta uang itu kepada Gatot melalui pesan elektronik. Gatot kemudian menyarankan Komeng untuk menghubungi Chandra Bhakti selaku staf ahli di Kempora.

"Kemudian saya mengatakan dan saat persidangan Ulum (Miftahul Ulum, Aspri Imam Nahrawi) juga saya sampaikan, deputi karena tidak pegang uang, saya persilakan ke Pak Chandra Bakti. Pak Komeng tidak lagi ngejar saya," kata Gatot.

Jaksa Penuntut KPK mendakwa mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi bersama-sama asisten pribadinya, Miftahul Ulum telah menerima suap sebesar Rp 11,5 miliar untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Suap itu diduga diterima Imam dari Ending Fuad Hamidy selaku Sekretaris Jenderal KONI dan Johnny E Awuy selaku Bendahara Umum KONI. Terdapat dua proposal kegiatan KONI yang menjadi bancakan Imam dan Ulum menerima suap.

Pertama, terkait proposal bantuan dana hibah Kempora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multievent Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018. Kedua, proposal terkait dukungan KONI pusat dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi tahun kegiatan 2018.

Tak hanya menerima suap, Jaksa juga mendakwa Imam bersama-sama dengan Ulum telah menerima gratifikasi terkait dengan jabatannya dengan nilai total Rp 8,6 miliar. Dibeberkan Jaksa, Imam dan Ulum menerima uang senilai Rp 300 juta dari Ending kemudian Rp 4,9 miliar sebagai uang tambahan operasional Imam Nahrawi selaku Menpora periode 2014-2019.

Selain itu, uang senilai Rp 2 miliar sebagai pembayaran jasa desain konsultan arsitek kantor Budipradono Architecs dari Lina Nurhasanah selaku Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Program Indonesia Emas (Prima) Kempora Tahun Anggaran 2015 sampai dengan Tahun 2016 yang bersumber dari uang anggaran Satlak Prima.

Kemudian, uang senilai Rp 1 miliar dari Edward Taufan Pandjaitan alias Ucok selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Program Satlak Prima Kempora Tahun Anggaran 2016 – 2017 yang bersumber dari uang anggaran Satlak Prima.

Terakhir, uang sejumlah Rp 400 juta dari Supriyono selaku Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional (PPON) periode 2017-2018 yang berasal dari pinjaman KONI Pusat.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Achmad Yurianto: 2 WNI ABK Diamond Princess yang Kembali ke Indonesia Tetap Akan Diobservasi

Menurut Achmad Yurianto, dua WNI ABK Diamond Princess yang telah dinyatakan sembuh, tetap harus menjalankan masa observasi 14 hari ketika pulang ke Indonesia.

NASIONAL | 4 Maret 2020

Moeldoko Tegaskan Tidak Perlu Perpres Penanganan Virus Corona

Moeldoko menegaskan pemerintah tidak perlu membuat Peraturan Presiden (Perpres) tentang penanganan virus corona atau Covid-19 di Indonesia.

NASIONAL | 4 Maret 2020

Kemsos Naikkan Bantuan Sembako Jadi Rp 200 Ribu

Kementerian Sosial berharap para keluarga penerima manfaat (KPM) dapat memanfaatkan sebaik-baiknya kenaikan program bantuan sembako ini.

NASIONAL | 4 Maret 2020

Pemkab Sleman Siap Tanggung Biaya Pasien Corona

Pemkab Sleman menyatakan siap menanggung biaya pengobatan bagi masyarakat Sleman yang terindikasi positif mengidap virus corona.

NASIONAL | 4 Maret 2020

Sukses Majukan Banggai, Herwin Yatim Raih Penghargaan Akuntabilitas Kinerja 2019

Pemkab Banggai dinilai telah bersungguh-sungguh melakukan berbagai upaya perbaikan sehingga tercipta penggunaan anggaran yang lebih efektif dan efisien.

NASIONAL | 4 Maret 2020

Perangi Corona, Komisi I Minta Pemerintah Perluas Larangan Traveler dari 3 Negara Lain

Pembatasan larangan bepergian ini tentu tidak akan mengganggu hubungan Indonesia dengan tiga negara sahabat tersebut.

NASIONAL | 4 Maret 2020

Bukan Timbun Makanan, Inilah Pesan Wamendes Hadapi Corona

Wamendes berharap agar warga tidak panik dan tetap menerapkan pola hidup sehat melawan virus corona (COVID-19).

NASIONAL | 4 Maret 2020

Agar Efektif, Cukai Plastik Jangan Terlalu Murah

Cukai plastik diharapkan tidak terlalu murah, agar berdampak signifikan pada pengurangan sampah plastik.

NASIONAL | 4 Maret 2020

SKK Migas: Proyek Masela Bisa Jadikan Indonesia Eksportir LNG Dunia

Selesainya proyek Masela beserta penemuan cadangan gas lainnya bisa menjadikan Indonesia kembali sebagai salah satu pemasok LNG dunia.

NASIONAL | 4 Maret 2020

Masyarakat Datangi Posko Pemantauan Corona Naik 4 Kali Lipat

RSPI Sulianti Saroso menyediakan nomor telepon agar pihaknya dapat merespons cepat laporan masyarakat. Hotline melalui nomor telepon 081298865558.

NASIONAL | 4 Maret 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS