Banjir Jakarta, Antrean Air, dan Drainase

Banjir Jakarta, Antrean Air, dan Drainase
Ilustrasi banjir. ( Foto: Antara / Aprillio Akbar )
Heri Soba / HS Kamis, 5 Maret 2020 | 22:30 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Masih ingat heboh antrean air yang pernah diangkat pimpinan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ketika banjir merebak baru-baru ini? Ketika banjir meluap pada awal Februari 2020 lalu, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Juaini Yusuf mengakui genangan air mudah terjadi di beberapa titik ruas jalan dikarenakan ada sampah yang menghambat saluran atau drainase.

“Hujan kan turun, lalu airnya mampir dulu nih. Kan ada sampah (di saluran),” kata Juaini Yusuf, Minggu (2/2/2020).

Jadi, setiap ada genangan air yang muncul di jalan-jalan karena hujan, maka pasukan biru SDA DKI akan turun ke titik genangan tersbut untuk membersihkan drainase dari sampah-sampah. Setekah itu aliran air hujan dapat mengalir dengan cepat ke dalam drainase dan mempercepat waktu surut genangan air di jalan-jalan. “Makanya satgas kita stand by juga. Kalau ada yang mampet (karena sampah), biar dikeruk biar lancar,” ujar Juaini.

Rupanya, soal antrean air tersebut juga pernah disampaikan Juaini sejak pertengahan Desember 2019. Saat itu, ketika hujan deras mengguyur Jakarta dan sekitarnya pada Selasa (17/12), sejumlah jalan protokol di terendam banjir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) DKI mencatat ada 19 ruas jalan Jakarta terendam genangan air.

Juaini menjelaskan banjir di sejumlah titik di Jakarta terjadi karena adanya antran masuk air hujan ke saluran. Sementara saluran air sendiri dipastikan tak bermasalah. "Sebagian besar karena antrean air yang masuk ke mulut-mulut air. Kalau dicek kondisi saluran tidak bermasalah," kata Juaini, Selasa (17/12/2019)

Dia menjelaskan, air hujan yang antre disebabkan derasnya guyuran hujan Jakarta dan berlangsung cukup lama. Meski begitu, banjir yang terjadi tak berlangsung lama, yakni hanya sekitar 30 menit. Dinas SDA sendiri menyebar 596 pompa air untuk menyedot genangan air di sejumlah ruas jalan.

Penjelasan terkait antrean air itu terdengar agak lucu. antrean itu menganalogikan bahwa air bisa mengatur diri sendiri. Padahal persoalan mendasar dari luapan atau genangan yang terjadi ketika hujan itu adalah drainase. Meskipun dijelaskan bahwa drainase lancar, tetapi karena kekecilan atau desain yang tidak mengantisipasi luapan yang terjadi.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan rupanya pernah menegaskan bahwa banjir yang terjadi bukan karena drainase Jakarta bermasalah. Dia yakin semua saluran drainase sudah dibersihkan. "Ini bukan masalah drainase," ucap Anies pada Desember lalu.

Anies kemudian menyinggung, pemerintah DKI tak dapat mengendalikan curah hujan. Dia tak secara gamblang menyebut curah hujan tinggi jadi penyebab banjir. "Curah hujan tidak dalam kendali kami, tetapi penanggulangan atas curah hujan ada dalam kendali kita. Sekarang kami fokus di situ," ujar dia terkait banjir Jakarta.

Fakta yang didukung dengan banyak kajian dan pandangan para pakar menyebutkan drainase menjadi salah satu persoalan utama terjadinya luapan dan banjir. Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga pernah menanggapi soal antrean air tersebut. Dia mengatakan tidak semua sistem drainase Ibu Kota berfungsi dengan baik.

Dalam beberapa kesempatan, Nirwono menjelaskan curah hujan yang tinggi seharusnya dapat tertampung jika drainase berfungsi. Sayangnya, hingga kini hanya 33 persen saluran air di Ibu Kota yang berfungsi dengan baik. "Curah hujan tinggi dapat tertampung dengan baik dan mengantisipasi banjir kalau drainase DKI berfungsi," kata Nirwono.

Dia menilai pemerintah DKI tak siap menghadapi banjir. Ada beberapa sebab yakni program penataan di bantaran kali yang terhenti karena perbedaan konsep antara normalisasi dan naturalisasi. Selain itu, pembebasan lahan di bantaran pun tidak berlanjut.

Lalu, revitalisasi situ, danau, embung, dan waduk berjalan lambat. Kemudian, penambahan ruang terbuka hijau (RTH) baru yang tidak signifikan membuat daerah resapan air tak bertambah banyak.



Sumber: BeritaSatu.com