Kerja Sama Lintas Sektor Tekan Angka Stunting di Aceh

Kerja Sama Lintas Sektor Tekan Angka Stunting di Aceh
Wakil Ketua TP PKK Aceh Dyah Erti Idawati ketika menghadiri diskusi pemenuhan gizi di Banda Aceh, Kamis (5/2/2020). ( Foto: Pemprov Aceh )
Jayanty Nada Shofa / JNS Jumat, 6 Maret 2020 | 21:32 WIB

Banda Aceh, Beritasatu.com - Jika dulu Aceh dinyatakan sebagai daerah ketiga dengan kasus gagal tumbuh atau kerdil (stunting) tertinggi di Indonesia, laporan terbaru menunjukkan Aceh sudah menduduki peringkat kelima.

Stunting adalah salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang dianggap genting.  Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskedas) 2019, angka stunting di Indonesia sebesar 27.67 persen. Menanggapi hal ini, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Aceh kemudian mengerahkan kerja sama lintas sektor.

Kerja sama ini kemudian menuaikan hasil dengan menurunnya peringkat stunting di Aceh.

"Saya yakin jika kerja sama ini terus kita lakukan. Secara perlahan upaya bersama ini akan menampakkan hasil. Dengan itu, target Aceh bebas stunting di tahun 2022 akan tercapai," kata Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Dyah Erti Idawati dalam diskusi publik di Banda Aceh, Kamis (5/3/2020).

Dalam mengampanyekan anti-stunting, upaya lintas sektor ini meliputi menggaet para ulama melalui Dinas Pendidikan Dayah, untuk mengampanyekan gerakan anti-stunting. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan antisipasi dan kesadaran para santri sebagai calon ibu.

"Perlu (sosok) figur untuk mengampanyekan ini. Stunting bukan hanya kena pada anak tapi juga pada bayi dalam kandungan. Oleh karena itu, ibu yang hamil patut didampingi," ujar Dyah.

Upaya menekan angka stunting lainnya juga termasuk pembangunan Rumoh Gizi Gampong di seluruh kabupaten/kota Aceh. Hingga hari ini, tempat penyediaan makanan bergizi bagi anak-anak dan ibu hamil ini sudah berdiri di 18 kabuparen/kota.

Dyah pun berharap langkah melawan stunting ini menjadi aksi bersama.

"Saya perlu pertegas, kita hanya penggerak. Kita memberi contoh konkrit, karena kita ini fasilitator. Yang kita dorong kabupaten/kota bergiat seperti halnya kita juga," kata Dyah.

Sementara Itu, Aripin Ahmad dari Tim Stunting Aceh, mengatakan Pemprov Aceh aktif dalam menangani kasus stunting. Hal ini ditandai dengan dikeluarkannya Pergub Aceh 14/2019 tentang Pencegahan dan Penanganan Stunting Terintegrasi di Aceh, serta pembangunan Rumoh Gizi Gampong yang didanai dengan dana desa.

Adapun dr. Natassya Phebe, Nutrition Officer Unicef, memaparkan data bahwa Indonesia bersama banyak negara lain di dunia punya masalah malnutrisi. Tercatat ada 149 juta anak-anak dari seluruh dunia yang menderita stunting, di samping 49 juta yang menderita gizi buruk dan 40 juta penderita kelebihan berat badan.

"Masalah gizi menyebabkan kematian 45 persen anak di dunia," kata Natassya.

Ia menyebutkan, malnutrisi diakibatkan oleh asupan makanan yang kurang bergizi dan penyakit. Salah satu penyebab lainnya adalah kesalahan pada pola asuh dan faktor kemiskinan.

"Stunting terjadi karena kontribusi gizi ibu dan pola asuh yang salah. Anak tidak bisa mengambil keputusan untuk diri sendiri. Karena itu, perlu intervensi bagi ibu hamil serta pemangku kepentingan," tutupnya. 

Digelar oleh Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Banda Aceh bersama Unicef, diskusi publik ini mengangkat tema "Cerdaskan Generasi Melalui Pemenuhan Gizi, Menuju Aceh Sehat dan Berkualitas".



Sumber: PR