Polda Papua: Kabar 17 Personel Ditembak Mati KKB di Tembagapura, Hoax

Polda Papua: Kabar 17 Personel Ditembak Mati KKB di Tembagapura, Hoax
Sejumlah warga sipil menaiki bus milik PT Freeport Indonesia saat evakuasi di perkampungan Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Jumat (6/3/2020). Ratusan warga dievakuasi ke wilayah perkotaan Timika karena akses logistik ke wilayah perkampungan terputus akibat baku tembak antara TNI/Polri dengan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) beberapa hari terakhir. ( Foto: ANTARA FOTO / Sevianto Pakiding )
Robert Isidorus / JAS Minggu, 8 Maret 2020 | 22:20 WIB

Jayapura, Beritasatu.com - Kepolisian Daerah Papua (Polda Papua) membantah pernyataan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) yang menyatakan telah menembak mati 17 aparat gabungan TNI-Polri di Tembagapura. Menurut Polda Papua berita tersebut adalah hoax.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal menegaskan, bahwa sampai saat ini belum ada laporan dari anggota di lapangan tentang anggota TNI-Polri yang gugur karena kontak tembak dengan KKB di Tembagapura.

“Sampai hari ini kita belum menerima laporan terkait kontak tembak yang menewaskan persone TNI maupun Polri di Tembagapura. Jadi kami pastikan pernyataan dari Legakek Talenggeng tentang 17 orang meninggal itu tidak benar atau hoax,” kata Kamal Minggu (8/3/2020) siang.

Kamal menyebut, kontak tembak terakhir terjadi pada tanggal 28 Februari lalu di Kali Kabur, Arwanop, Distrik Tembagapura, yang mengakibatkan satu personel Brimob Bharatu Doni Priyanto gugur.

“Korban anggota kita yang gugur terakhir itu Bharatu Doni Priyanto pada 28 Februari lalu. Setelah itu tidak ada lagi anggota dari Polri maupun TNI yang menjadi korban. Info yang disebar itu hoax,” tegasnya.

Kamal menambahkan, kehadiran aparat TNI-Polri di Tembagapura karena adanya aksi penembakan yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata beberapa waktu lalu di area PT Freeport Indonesia.

“Kami hadir di sana untuk melakukan penegakkan hukum bagi siapa saja yang melakukan tindakan melawan hukum sesuai undang-undang yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami ingin memberikan rasa aman bagi masyarakat yang diteror oleh kelompok kriminal ini,” bebernya.

Hingga Minggu siang, jumlah warga yang mengungsi ke Timika mencapai 900 orang. Ratusan warga ini memilih mengungsi karena diteror oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) dalam sepekan terakhir.

“Kami sangat prihatin dengan apa yang dilakukan kelompok tersebut, karena warga yang harusnya mendapatkan kenyamanan diganggu oleh kelompok ini. Dan tindakan ini tidak manusiawi,” tutupnya.



Sumber: BeritaSatu.com