Mahasiswa Jepang Dirawat di RSUP Dr Sardjito Negatif Corona

Mahasiswa Jepang Dirawat di RSUP Dr Sardjito Negatif Corona
Ilustrasi ruang isolasi pasien terinfeksi virus "corona". ( Foto: AFP )
Fuska Sani Evani / LES Senin, 9 Maret 2020 | 19:12 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Mahasiswa asal Jepang yang dirawat di ruang isolasi RSUP Dr Sardjito dinyatakan negatif virus corona (Covid-19) dan diperbolehkan kembali ke negaranya.

Kabag Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan, Senin (9/3/2020), mengatakan, pasien masuk ke RSUP Dr Sardjito pada 3 Maret 2020 pukul 15.30 WIB dengan keluhan demam tinggi dan batuk. Dengan demikian, tim medis RSUP Dr Sardjito memberikan kriteria pengawasan terhadap pasien tersebut.

Saat pasien masuk, tim medis RSUP Dr Sardjito memberikan kriteria pengawasan terhadap pasien ini. Dasar penetapannya karena kondisi pasien yang mengalami demam dan batuk serta berasal dari negara yang masuk dalam daftar negara positif Covid-19.
“Atas hal tersebut, tim medis tetap mewaspadai adanya kemungkinan terjangkit Covid-19,” jelas Banu.

Mahasiswa asal Jepang yang datang ke Yogyakarta dalam rangka wisata ini menempati ruang isolasi di RSUP Dr Sardjito. Tim medis telah melakukan lab swab covid dan serum, rontgen dan pemeriksaan laboratorium rutin. Selanjutnya sampel tersebut dikirim ke Balitbangkes di Jakarta. Setelah dilakukan perawatan selama lima hari, pada 7 Maret 2020, pukul 22.30 WIB, Balitbangkes mengirimkan hasil pemeriksaan WNA Jepang tersebut dan dinyatakan negatif Covid-19.

“Mahasiswa Jepang tersebut boleh keluar rumah sakit pada Minggu 8 Maret 2020 pukul 12.30 dan sudah tidak panas serta dalam kondisi stabil,” ujarnya.

Dikatakan, mahasiswa Jepang tersebut bersama salah satu gurunya bertolak kembali ke Jepang, Senin.

Banu juga menjelaskan, hasil laboratorium Balitbangkes, Kemkes di Jakarta tidak bisa langsung diterima pascapasien diobservasi, meski rumah sakit langsung mengkirimkan data swab covid dan rontgen ke Litbangkes, memang setiap hari harus dilakukan tes atau pemeriksaan ulang dan hasilnya pasti selalu dikirimkan.”Jadi data satu pasien tidak hanya satu saja, tetapi berulang-ulang, dan untuk jawaban mengapa lama, yang bisa menjawab pihak Litbangkes,” ujarnya.

Banu mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menyikapi Covid-19 dengan tenang dan tidak panik.

Sementara itu, Pemkab Bantul terus melacak kerabat dari pasien terduga korona yang sedang dirawat RSUD Panembahan Senopati.

Kepala Dinkes Bantul Agus Budi Raharjo mengatakan, pihaknya masih melacak kerabat dari lima pasien yang disinyalir terlibat kontak intens.

Tiga pasien telah diisolasi di RSUD Bantul, sedang dua pasien sedang diobservasi di RSUP Sardjito.

"Ada lima yang dikontak tracing. Tetapi, untuk dua orang yang di RSUP Sardjito, sudah dinyatakan negatif, sudah diobservasi semua," ungkapnya.

Agus mengungkapkan, sampai sejauh ini, berdasarkan hasil yang didapat dari kontak tracing, pihaknya belum menemukan orang dengan gejala yang sama.

Namun, penelusuran riwayat kontak tetap wajib dilakukan, sebagai upaya antisipasi penyebaran virus.



Sumber: BeritaSatu.com