Sektor Pertanian Aceh Turut Dilirik oleh Investor Asal UEA

Sektor Pertanian Aceh Turut Dilirik oleh Investor Asal UEA
Pertemuan Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah dengan CEO Mubadala Petroleum, Bakheet Al Katheeri, di Abu Dhabi, Senin (9/3/2020). ( Foto: Pemprov Aceh )
Jayanty Nada Shofa / JNS Senin, 9 Maret 2020 | 22:54 WIB

UEA, Beritasatu.com - Uni Emirat Arab (UEA) kian mempertegas minatnya untuk memperluas kegiatan investasinya di Aceh termasuk dalam sektor non-migas.

Hal ini ditunjukkan pada kunjungan kerja Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah ke Abu Dhabi, UEA, sejak Sabtu (7/3/2020).

Adapun pihak yang tertarik untuk memperluas investasi di Aceh adalah Mubadala Holding, perusahaan milik kerajaan Abu Dhabi yang bergerak di berbagai bidang termasuk minyak dan gas, perkebunan, industri petrokimia hingga sektor non-migas.

Saat ini, Mubadala Petroleum, salah satu anak perusahaan Mubadala, adalah pemegang konsensi eksplorasi migas terbesar di Aceh yang tersebar di blok Andaman I, Andaman II dan Andaman Selatan dengan total nilai investasi sekitar USD 500 juta.

Sebagai salah satu pemain utama di industri migas di Aceh, Plt Gubernur sangat mengapresiasi kegiatan investasi yang dilakukan oleh Mubadala dalam beberapa tahun terakhir.

“Hubungan baik antar perusahaan dan masyarakat patut diberikan apreasiasi dan menjadi pelajaran bagi perusahaan lain dalam menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar,” ujar Nova Iriansyah pada keterangan tertulis yang diterima pada Senin (9/3/2020).

Ia berharap, usaha diversifikasi investasi yang akan dilakukan oleh Mubadala ini dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh serta membuka lapangan pekerjaan yang baru.

Adapun CEO Mubadala Petroleum Bakheet Al-Khateeri menyatakan minatnya untuk berinvestasi di bidang non-migas khususnya pertanian.

"Kami tertarik untuk mendiversifikasi portfolio investasi di Indonesia dengan cara menempatkan dana di sektor pertanian yang ramah lingkungan serta pembangunan infrastruktur dan energi," ujarnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Aceh Aulia Sofyan menyatakan pihaknya akan memastikan kemudahan dan kecepatan proses perizinannya.

“Yang paling penting bagi kita adalah arus modal asing masuk dulu ke Aceh. Hal-hal mengenai perizinan dan non perizinan yang menjadi kewenangan provinsi akan kami pastikan tidak mengalami hambatan,” ujar Aulia.

Sebagai informasi, Nova juga sebelumnya telah bertemu dengan Menteri Energi dan Industri UEA Suhail Mohammed Faraj Al-Mazrouie untuk membahas kelanjutan komitmen investasi UEA di Aceh.



Sumber: PR