Ketua LIRA Aceh: Narkoba Jadi Tantangan Menuju Bonus Demografi

Ketua LIRA Aceh: Narkoba Jadi Tantangan Menuju Bonus Demografi
Ketua Ketua Lembaga Perempuan Lumbung Informasi Rakyat (LIRA), Dyah Erti Idawati di Auditorium FKIP Unsyiah, Selasa (10/3/2020). ( Foto: Pemprov Aceh )
Jayanty Nada Shofa / JNS Selasa, 10 Maret 2020 | 22:17 WIB

Banda Aceh, Beritasatu.com - Dewasa ini, pemerintah kian aktif mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi bonus demografi di tahun 2045 di mana jumlah penduduk berusia produktif akan lebih banyak dari yang tidak. Melimpahnya kelompok usia produktif ini dapat dimanfaatkan apabila daya saing generasi muda tinggi melalui pendidikan hingga pembentukan karakter.

Namun, penyalahgunaan narkoba yang kian marak di kelompok usia produktif tentu dapat mempersulit generasi emas ini dalam memanfaatkan bonus demografi.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Lembaga Perempuan Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Dyah Erti Idawati ketika memberikan materi terkait bahaya penyalahgunaan narkoba dan ponografi bagi millennial di Auditorium FKIP Unsyiah, Banda Aceh, Senin (10/3/2020).

"Kalau sudah terkena narkoba akan hilang semua. Bisa menjadi ketika orang mencapai bonus demografi, kita akan mengalami musibah demografi. Karena itu, kita wajib bersama melawan narkoba di Aceh. Oleh karena itu, usahakan menjauhi lingkungan yang dirasa membawa dampak negatif dan selalu libatkan diri dalam hal positif," ujar Dyah.

Berdasarkan Polda dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Aceh, terdapat 114 pelajar dan 94 mahasiswa yang menjadi tersangka penyalahgunaan narkoba. Wirausahawan juga dinamakan sebagai kelompok dengan kasus narkoba terbanyak dengan 861 orang dan diikuti dengan kelompok swasta dengan 291 pengguna. Sekitar 48 persen dari para pengguna ini juga dinyatakan sebagai kurir narkoba.

Para pengguna narkoba ini pun dinyatakan berada di rentang usia 10-59 tahun.

Menurut Kepala BNN Aceh Brigjen Heru Pranoto, angka penyalahgunaan narkoba yang tinggi disebabkan oleh letak geografis Aceh.

Secara geografis, letak garis pantai Aceh yang berbatasan dengan Selat Malaka dan Samudera Hindia, sehingga memberikan celah bagi obat terlarang ini untuk masuk ke Aceh.

"Kita harus mewaspadai titik-titik rawan peredaran narkoba," ujarnya.

Dengan puluhan dari 899 jenis narkoba baru di dunia yang kini beredar, Heru bahkan menyebutkan Indonesia sebagai darurat narkoba. Oleh karena itu, pihaknya bekerja sama dengan pemerintah Gampong untuk menjadi benteng terdepan melawan narkoba melalui program Desa Bersinar (Desa Bersih Narkoba).



Sumber: PR