Antisipasi Karhutla, Operasi Hujan Buatan Dimulai di Riau Hari Ini

Antisipasi Karhutla, Operasi Hujan Buatan Dimulai di Riau Hari Ini
Petugas TNI AU memeriksa pesawat Cassa A-2108 yang akan dioperasikan untuk keperluan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau, Rabu (11/3/2020). Guna mencegah dan meminimalkan kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan bencana kabut asap di Provinsi Riau, Satgas Karhutla Riau berkolaborasi dengan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC-BPPT) untuk melakukan hujan buatan. ( Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Rabu, 11 Maret 2020 | 20:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mulai melaksanakan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Rabu (11/3/2020) di Riau.

Tim TMC yang didukung TNI Angkatan Udara akan mengoptimalkan potensi awan menjadi hujan ini untuk pembasahan lahan-lahan gambut yang kering dan pengisian embung-embung penampungan air untuk mencegah terjadinya karhutla yang lebih luas dan tidak terkendali.

"Pelaksanaan operasional TMC tahun ini merupakan salah satu tindakan pencegahan karhutla di Provinsi Riau," kata Kepala BBTMC BPPT, Tri Handoko Seto di Riau, Rabu (11/3/2020).

Dalam keterangan tertulisnya, Seto mengungkapkan berdasarkan historisnya fluktuatif jumlah titik panas (hot spot) meningkat pada Maret dan periode puncak pada Agustus hingga September. Riau merupakan wilayah di Indonesia yang setahun mengalami dua fase kemarau.

Seto menyebut, operasi TMC di Provinsi Riau bertujuan tidak hanya untuk mematikan titik api karhutla sebagai sumber bencana kabut asap, tetapi juga untuk menjaga kelembapan tanah gambut agar tidak kering.

Faktor kelembaban tanah gambut menjadi hal yang penting untuk terus dipantau secara terus menerus guna mengetahui tingkat kekeringan yang dapat menjadi sinyal kerawanan bencana karhutla di suatu wilayah.

Seto menjelaskan, strategi pelaksanaan TMC dapat lebih difokuskan untuk membasahi kembali (rewetting) area gambut yang dinilai mempunyai tingkat kekeringan yang perlu diwaspadai. Dengan tetap terjaganya kelembapan tanah pada area lahan gambut, maka potensi terjadinya kebakaran di area lahan gambut akan semakin berkurang.

Kepala Bidang Penerapan TMC BBTMC, Budi Harsoyo mengatakan, untuk membangun sistem monitoring di area lahan gambut, BBTMC telah mengembangkan Sistem Monitoring Online Kandungan Air Lahan Gambut untuk Early Warning System Karhutla (Smokies) dengan menempatkan sejumlah instrumen ukur parameter cuaca dan hidrologi berupa Automatic Weather Station (AWS) dan sensor ultrasonik untuk pengukuran tinggi muka air (TMA) lahan gambut.

"Kedua instrumen ini berfungsi untuk mengukur parameter cuaca dan TMA lahan gambut hingga kedalaman 1,5 meter dan datanya secara real time ditransmisikan ke server di BPPT setiap 1 jam," paparnya.

Penempatan instrumen Smokies ini perlu diperbanyak lokasi pengukurannya agar memberikan gambaran monitoring tinggi muka air lahan gambut yang representatif di beberapa provinsi rawan karhutla.

Posko TMC Karhutla Riau dipusatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru dengan dukungan pesawat TNI AU CASA 212 milik TNI AU dari Skuadron 4, Malang. Pembiayaan pelaksanaan TMC Provinsi Riau bersumber dana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau.

Seperti diketahui, Provinsi Riau merupakan salah satu daerah yang paling rawan terkena dampak bencana kabut asap akibat karhutla. Bencana yang hampir terjadi setiap musim kemarau tersebut berdampak pada rusaknya keanekaragaman hayati dalam ekosistem hutan, gangguan kesehatan, juga terganggunya transportasi yang disebabkan kabut asap.

Dalam beberapa tahun terakhir bencana kabut asap akibat karhutla di Indonesia bahkan menjadi sorotan negara-negara tetangga yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung.



Sumber: BeritaSatu.com