Ekonomi Indonesia Terdampak Covid-19, Ansor Ajak Dukung Petani

Ekonomi Indonesia Terdampak Covid-19, Ansor Ajak Dukung Petani
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas ( Foto: istimewa )
Bernadus Wijayaka / BW Jumat, 20 Maret 2020 | 14:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Melihat perkembangan wabah virus corona (Covid-19) yang makin masif, termasuk dampak ekonomi yang ditimbulkan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Yaqut Cholil Qoumas menyerukan agar negara mengandalkan sumber daya nasional untuk bertahan. Negara harus membeli hasil panen petani terlebih dahulu, sebelum impor untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Hal ini bukan saja untuk menjamin ketersediaan pangan, tetapi juga menguatkan solidaritas dan spirit gotong royong.

“Merebaknya pandemi Covid-19 ini harus dimanfaatkan untuk memaksimalkan produk dalam negeri. Pemerintah harus mendorong penggunaan produk sendiri apa saja. Jangan bergantung dengan impor. Ini sebenarnya tergantung pemerintah. Kita punya produk dalam negeri tidak terbilang banyaknya. Tinggal ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya kalau memang dirasa kurang. Kalau soal harga, jika memang situasi saat ini harga naik, selama hasilnya buat petani kita, kan, oke saja. Tidak masalah. Ini untuk memperkuat pangan nasional, memperkuat petani kita,” ujarnya Gus Yaqut, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (20/3/2020).

Gus Yaqut mengemukakan, wabah Covid-19 memberi pelajaran semestinya pemerintah Indonesia agar tidak lagi mengandalkan barang impor. “Tujuannya, supaya petani kita dapat menikmati hasilnya. Selain itu, meningkatkan daya beli rakyat. Pokoknya, batasi impor. Kita yakin Indonesia bisa swadaya, baik beras maupun komoditas lainnya. Lha itu, garam kita surplus, tetapi kok tidak bisa terserap itu gimana, malah garam impor luber,” tandasnya.

Gus Yaqut mengingatkan, pertanian merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam Islam, ujarnya, petani merupakan pekerjaan yang amat dihargai.

“Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pernah mengatakan, petani adalah penyambung kehidupan, pengolah kekayaan negara, dan tanggul ekonomi negeri. Sebuah negeri atau masyarakat yang tak menghargai petani, tentu merupakan negeri yang secara perlahan-lahan tengah mengeroposkan pertahanan ekonominya sendiri. Makanya, baik Alquran, hadis, maupun kitab-kitab klasik menyebut bagaimana pertanian mendapat perhatian yang sangat penting dalam ajaran Islam,” katanya.

Melihat pentingnya petani dan pertanian bagi masyarakat Indonesia, perlu dipikirkan mekanisme kompensasi ekonomi untuk sektor produksi pangan yang ikut terpapar wabah Covid-19.

Gus Yaqut mengatakan, jika sektor pangan lumpuh pada saat masyarakat menghadapi krisis kesehatan, maka situasi bisa memburuk dengan cepat. Pemerintah, lanjut dia, harus benar-benar menyiapkan antisipasi kesiapan stok bahan pangan, termasuk mitigasinya jika produksi pangan ambruk.

“Saat ini saja masyarakat sudah merasakan dampaknya. Beberapa komoditas sudah mulai langka di pasaran, harganya juga terus melambung naik. Harga impor sembako terpengaruh besar karena hampir semua kebutuhan bahan pokok kita impor, terutama dari Tiongkok,” ungkapnya.



Sumber: BeritaSatu.com